Category Archives: Berita Pilihan

PUSPA 2016

Jakarta, KOWANI — Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang diwakili oleh Ibu Titien Pamudji selaku Sekretaris Jenderal dan Ibu Yulia Himawati, Ketua Bidang Tenaga Kerja hadir pada Temu Nasional Partisipasi Publik 2016 atau yang disebut dengan PUSPA 2016 pada 30 Mei – 1 Juni 2016 di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta.  Turut hadir pula Ibu Ery Simandjuntak selaku Ketua Bidang Humas Kowani yang pada kesempatan tersebut hadir sebagai utusan dari Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI).

 

38

Dalam acara yang diselenggarakan oleh KPPPA ini membahas mengenai “pengoptimalan pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak yang lebih menyeluruh di setiap pelosok Indonesia”

KPPPA memiliki program unggulan 2016 yang bernama Three Ends:

  1. Pertama, akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak.
  2. Kedua, akhiri perdagangan manusia.
  3. Ketiga, akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan.

 

Untuk memastikan program ini tercapai pada akhir tahun 2016, KPPPA menggalang partisipasi dari berbagai lembaga masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi profesi, akademisi, dunia usaha, serta media.  Ada sekitar 400 partisipan yang diundang untuk mensukseskan acara akbar ini.

Ada yang berbeda dalam acara seminar KPPPA kali ini dari segi konten acaranya.  Acara ini diselenggarakan selama empat hari.  Rangkaian acara berupa:

  • Konferensi mengenai program unggulan KPPPA
  • Presentasi Pecha Kucha
  • Pasar Ide
  • Kunjungan lapangan
  • Lokakarya sinergi
  • serta Deklarasi Yogyakarta.

Puncak acara berisi pembacaan Deklarasi Yogyakarta, berisi komitmen, sinergi, serta perluasan partisipasi public untuk mengakhir kekerasan pada perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.

39

40

Pendidikan Keluarga Tentukan Keberhasilan Tumbuh Kembang Anak

JAKARTA (Pos Sore) — Peranan orang tua sangat vital dan urgen dalam menentukan keberhasilan pada pembinaan dan pendidikan keluarga. Masalah pembinaan dan pendidikan keluarga ini sesungguhnya menjadi bagian utama bagi wanita sebagai Ibu Bangsa, pendidik pertama dan utama bagi keluarga.

“Tentulah kita sepakat bahwa keluarga adalah lingkungan ‘Ring satu’ bagi anak anak dan ibarat lahan yang diharapkan paling subur sebagai media tumbuh dan kembangnya anak-anak usia dini,” kata Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., dalam Sosialisasi Pembinaan Pendidikan Keluarga bekerjasama dengan Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di gedung Kowani, Rabu (22/6).

11

Dalam pandangannya, kasus kekerasan terhadap anak yang kian marak tak dapat dipisahkan dari kondisi dan kualitas perlindungan anak dalam dan oleh keluarga. Keluarga merupakan fondasi awal tumbuh kembang anak. Pola interaksi, sikap dan perilaku serta ‘pengawasan’ keluarga turut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.

“Sayangnya, meski sudah disadari posisi keluarga sangat vital, namun pada kenyataannya tidak semua keluarga Indonesia menjadikan keluarga sebagai laboratorium dan incubator yang aman untuk tumbuh kembang yang ramah anak,” sesal Giwo.

Menurutnya, akar masalah terjadinya tindakan kekerasan salah satunya adalah persepsi yang bias atas kekerasan. Sebagian orang berpandangan membentak, membeda-bedakan, mencubit dengan tujuan mendisiplinkan anak bukan dianggap kekerasan.

“Padahal sikap dan tindakan demikian dapat dikategorikan sebagai kekerasan yang dapat berakibat negatif bagi tumbuh kembang anak,” tegas mantan Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini.

Giwo memberikan pandangan bahwa berkeluarga bukan sekedar berhimpun, namun filosofinya adalah memiliki visi yang besar untuk tujuan masa depan yang lebih baik. Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang terikat, mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, nyaman dan berkehendak bersama-sama memperteguh untuk memuliakan masing-masing anggotanya.

Dengan demikian, segala bentuk sikap dan tindakan yang bermuatan kekerasan tidaklah lazim terjadi dalam lingkungan keluarga dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, baik tujuan pendisiplinan, pembentukan mental, pendidikan atau alasan lain yang dipandang perlu.

Dikatakan, terbentuknya perilaku menyimpang pada anak sejatinya dipengaruhi oleh tiga aspek: nilai individual, harapan dan keyakinan. Pola pengasuhan keluarga sangat berpengaruh pada ketiga aspek dimaksud. Jika anak dididik dengan kekerasan atau bahkan pola pembiaran, akan beresiko besar membentuk sistem nilai yang diyakini oleh anak.

“Keluarga ramah anak merupakan jawaban atas beragam masalah relasi dan pola pengasuhan yang selama ini masih menyimpan sejumlah masalah,” ujarnya.

(tety)

© 2014 Possore.com
All Rights Reserved

Ketua Umum dan DP KOWANI Terpilih dalam ICW Standing Committees

wpid-img-20150601-wa0007-480x330

 

Jakarta, KOWANI — Senin, 1 Juni 2015, Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. menyampaikan Presentasi Report of NCW Indonesia/Kowani pada General Assembly International Council of Women (GA ICW) 34th di Izmir Turki. Presentasi yang sangat baik dari Ibu Giwo membuat Kowani bangga karena disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah oleh para peserta dari berbagai negara.

Berkat Tim Kowani yang solid dan atas rahmat Tuhan Maha Kuasa, Ibu Giwo terpilih sebagai ICW Communication Coordinator.
Selanjutnya Ibu Uli Silalahi, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri (HLN) Kowani, terpilih sebagai ICW Sustainable Development Coordinator.

Dengan terpilihnya dua orang Pimpinan Kowani masuk jajaran ICW Standing Committees, hal ini merupakan kebanggaan bagi Kowani dan Indonesia. Selanjutnya Delegasi Indonesia ini menyampaikan laporan dari representative UN CSW, laporan Project Five-O ICW, serta mengikuti APRC Meeting, yaitu Rapat Anggota dari Asia-Pacific.

Esoknya, Selasa 2 Juni 2015, Panitia Pemilihan ICW mengumumkan secara resmi antara lain Charletty Choesyana Taulu dari NCW Indonesia (Kowani) terpilih sebagai ICW Aging Advisor 2015-2018. Ini berarti bahwa tiga orang Pengurus Kowani berhasil masuk di jajaran ICW Standing Committees 2015-2018. Dengan demikian, tentunya tugas untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan di dunia khususnya di Indonesia akan semakin memerlukan perhatian dari para Pengurus ini.

Indonesia bangga memiliki kaum perempuan yang potensial di kancah dunia.

-(Humas Kowani).

KOWANI Bekerjasama dengan BNN Rehabilitasi Pengguna Narkoba

Jakarta, KOWANI — BNN menggandeng KOWANI dalam kegiatan rehabilitasi pengguna Narkoba. Bentuk kerjasamanya adalah dengan menerjunkan anggota KOWANI di masyarakat untuk membawa pengguna Narkoba wajib lapor dan bersedia direhabilitasi. Program ini kerap disebut dengan program penjangkauan. Untuk dapat efektif kerja di lapangan, BNN akan melatih dan memberikan bimbingan kepada anggota KOWANI.

Demikian dinyatakan oleh Irjen Pol Bachtiar Tambunan, Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN saat ditemui sebelum acara Dialog Interaktif Ketahanan Keluarga Penangkal Bahaya Narkoba di KOWANI, 25 Maret. Bachtiar menyampaikan visi BNN tahun 2015 adalah melakukan rehabilitasi kepada 100.000 penyalahgunaan Narkoba hasil dari peredaran gelap Narkoba di masyarakat. Visi ini berbeda dengan visi pada tahun-tahun sebelumnya di mana orientasi Pemerintah ketika itu adalah membawa penyalahguna Narkoba ke penjara (ranah hukum). Artinya korban penyalah gunaan Narkoba di tangkap dan dipenjarakan. Orientasi penjara dengan maksud untuk efek jera dalam kenyataannya ternyata telah menumbuh suburkan bisnis Narkoba dari balik jeruji. Para pengguna dan pengedar Narkoba dari berbagai daerah yang berkumpul dalam satu penjara telah berhasil membangunkan solidaritas dan kreatifitas dalam mengembangkan bisnis gelap tersebut di antara mereka.

Pada prinsipnya BNN kini memiliki pemahaman bahwa banyak generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya telah menjadi korban bisnis gelap Narkoba. Para korban inilah yang harus ditempatkan sebagai “orang sakit” yang harus mendapatkan pelayanan yang layak, dalam hal Narkoba harus direhabilitasi sampai sembuh secara total. Bukan sebaliknya memasukkan orang-orang sakit tersebut ke dalam penjara.

Untuk merealisasikan target program rehabilitasi pengguna Narkoba tersebut di atas, Pemerintah akan menerbitkan Peraturan Presiden yang sebelumnya telah diterbitkan SKB 3 Menteri/Lembaga yakni BNN, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial. Selain itu, Pemerintah dalam hal ini BNN juga melebarkan jaringannya di masyarakat untuk membawa para pengguna wajib lapor dan bersedia direhabilitasi sampai sembuh. BNN berharap DP KOWANI menjadi garda depan dalam program tersebut dengan kekuatan basis organisasi perempuan di Indonesia.

Pada moment yang sama, Ketua Umum KOWANI, Giwo Rubianto menyampaikan bahwa DP KOWANI telah menjalin kerjasama dengan BNN sejak masa kepemimpinan Ibu Ine. Pada waktu DP KOWANI di bawah kepemimpinan Ibu Linda Agum Gumelar, DP KOWANI bersama organisasi-organisasi perempuan lainnya membentuk Jaringan Kerja Pencegahan Penyalagunaan Narkoba-HIV. Jaringan ini berfungsi sebagai media koordinasi dan komunikasi organisasi perempuan dalam melakukan kerja pencegahan Narkoba dan HIV. Setiap bulan anggota jaringan melakukan rapat dengan agenda rutin monitoring dan evaluasi terhadap kerja-kerja jaringan. Ibu Giwo mengharapkan BNN dapat meneruskan jaringan tersebut pada periode kepemimpinan KOWANI saat ini.

-(Humas Kowani).