Category Archives: Berita Nasional

Seminar Kebangsaan dalam rangka PHI ke-87 Tahun 2015

Jakarta, KOWANI — Kamis, 10 Desember 2015 diselenggarakan Seminar dan Dialog Kebangsaan “Perkuat Semangat Bela Negara guna Menghadapi Ancaman Multi-Dimensi terhadap Negara” yang dilaksanakan oleh Panitia Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-87 Tahun 2015, di Ruang Pre-Function Hall-B, Jakarta Convention Center.
Acara dibuka dengan Sambutan Ketua Umum Kowani, DR. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., yang sekaligus secara resmi membuka kegiatan hari ini.

image

Sambutan diawali dengan penyampaian Ketua Umum Kowani selaku Ketua Umum Panitia Penyelenggara PHI ke-87 Tahun 2015, bahwa Peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya, dimulai dengan pelaksanaan Kongres Perempuan I di Tahun 1928 yang menjadi tonggak bersejarah bagi kaum Perempuan Indonesia dengan tekad dan perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, dilandasi oleh cita-cita dan semangat persatuan dan kesatuan.

Lebih lanjut Ibu Giwo menjelaskan tentang Tema Utama PHI ke-87 Tahun 2015 yaitu: “Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki dalam Menciptakan Lingkungan yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak”. Dalam kaitannya dengan tema tersebut, maka dipandang perlu mengangkat isu tentang Kebangsaan, Pencapaian SDGs, serta Perlindungan Perempuan dan Anak.

“Tema Seminar Kebangsaan “Perkuat Semangat Bela Negara guna Menghadapi Ancaman Multidimensi terhadap Negara” ini dipilih mengingat kita sebagai bangsa dan negara membutuhkan injeksi semangat jiwa bela negara, apapun profesi kita, dimanapun kita berada. Jika tidak kita tumbuhkan, akan terjadi erosi rasa nasionalisme yang berbahaya bagi Bangsa Indonesia. Gaya hidup yang serba materi, politik yang tanpa arah, bisa menggerus dan mendangkalkan rasa cinta kepada Bangsa Indonesia, untuk itu harus kita rawat dan terus kita semaikan,” lanjut Ibu Giwo.

Lebih jauh dijelaskan Ibu Giwo bahwa penanaman konsep “Ibu Bangsa” kepada setiap perempuan merupakan dasar dan landasan untuk kemajuan Bangsa dan Negara.

Konsep Ibu Bangsa adalah hasil keputusan Kongres Perempuan II Tahun 1935 yang menyatakan bahwa kewajiban utama Wanita Indonesia menjadi Ibu Bangsa, berarti berusaha menumbuhkan generasi baru yang lebih sadar akan kebangsaannya, yaitu dengan mempersiapkan anak-anak bangsa menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki jiwa dan wawasan kebangsaan yang kuat, sehingga mampu bertanggung jawab kepada bangsa dan negara, ke depan melalui sains dan teknologi.


“ Seminar ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Ibu ke-87. 
  Kegiatan lain yang sudah dan akan dilaksanakan adalah Nonton Bersama Film “Air Mata Surga”, 
  Bakti Sosial berupa Donor Darah, Pelaksanaan IVA Test dan Mamografi, 
  Jalan sehat yang diikuti oleh lebih dari 2.200 orang, 
  kemudian akan ada acara Silaturahmi dengan Tokoh Pejuang, 
  serta Ziarah ke Taman Makam Pahlawan dengan acara puncak PHI di Kupang NTT,” papar Ibu Giwo.

Selanjutnya Ibu Giwo menyampaikan harapannya agar rangkaian kegiatan tersebut bukanlah sekedar rangkaian gebyar seremonial sesaat belaka, melainkan kegiatan yang mampu menyentuh sampai ke akar rumput sehingga dapat memberikan kenangan indah yang berkesan dan memberikan multi-player effect, dalam artian bisa diterima dan dinikmati gaungnya oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia berupa output, outcome, impact, dan benefit yang tak ternilai manfaat dan pengaruhnya.

“Harapan kami, pelaksanaan Seminar Hari Ibu ini dapat membawa perubahan yang nyata dalam perjuangan kita untuk perempuan dan anak-anak Indonesia, sehingga bersama-sama kita dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan dalam berbagai aspek kehidupan dan pembangunan guna mewujudkan kesetaraan gender dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkas Ibu Giwo mengakhiri sambutannya, sekaligus menyampaikan ucapan terima kasih yang kepada Ibu Linda Agum Gumelar dari Katumbiri yang telah memberikan support pada acara ini, juga kepada para Narasumber, Panitia Nasional PHI dari 6 organisasi, serta pihak-pihak lain yang telah membantu sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik.

Memasuki sesi Seminar, mengetengahkan Keynote Speaker Menteri Pertahanan RI Bapak Ryamizard Ryacudu, yang menyampaikan materi tentang “Bela Negara”.

image

Paparan Menhan diawali dengan penjelasan bahwa kekuatan rakyat bukanlah kekuatan fisik/materiil semata, namun merupakan kekuatan jiwa yang sangat kuat didasarkan atas kecintaannya yang mendalam terhadap bangsa dan negaranya. Kekuatan maha dahsyat itulah yang sering kita sebut dan kita dengar sebagai “Bela Negara”.
Selanjutnya beliau membahas soal lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya yang intinya membawa pesan mendalam tentang filosofi dan jiwa bela negara Bangsa indonesia.

Lebih dalam beliau menguraikan tentang Perang Modern:

  1. Yang pertama, berbentuk infiltrasi ke dalam negara dalam bentuk Ipoleksosbudaghankam.
  2. Kedua, eksplorasi Ipoleksosbudaghankam di dalam negara, dapat berupa pembangunan, diklat dan kerja sama.
  3. Ketiga, adanya usaha cuci otak agar mengganti Pancasila dan mengubah UUD 1945.
  4. Keempat, adanya usaha menimbulkan kekacauan berbau SARA.
  5. Kelima, timbulkan pemberontakan, perang saudara, dengan tujuan agar NKRI pecah atau dikuasai oleh pihak asing.
Kesadaran Bela Negara penting untuk ditanamkan kepada seluruh warga negara, sebagai bentuk revolusi mental sekaligus untuk membangun daya tangkal bangsa dalam menghadapi kompleksitas ancaman guna mewujudkan Ketahanan Nasional yang tangguh.

Selanjutnya Menhan menyampaikan pesan kepada seluruh peserta Seminar, bahwa Bela Negara itu bagaimana agar seluruh Anak Bangsa tahu, mengerti, dan paham akan Bangsa dan Negaranya, dengan demikian dia akan bangga dan mencintai Bangsa dan Negaranya, sehingga pada akhirnya rela berkorban demi Bangsa dan Negaranya.

Terakhir, Bapak Ryamizard menyampaikan Arahan dari Mahapatih Kerajaan Majapahit Empu Tadah kepada Gajah Mada dan Adityawarman di Tahun 1325, sebagai berikut: “Memang sangatlah sulit untuk menyatukan suku-suku yang beraneka ragam, tetapi justru persatuan dan kesatuan itulah kekuatan kita yang maha dahsyat, tetapi bukan yang dipaksakan”.

image
Pada bagian kedua, dilaksanakan Dialog Interaktif dengan menampilkan 3 orang narasumber, yaitu

  1. Ibu Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP.
  2. Mewakili Tokoh Senior, Bapak Andi Irman Putra Sidin
  3. Mewakili Tokoh Generasi Muda sekaligus Pakar Hukum Tata Negara, serta
  4. Sinta Ayu Lestari mewakili Generasi Muda dari Dewan Kerja Nasional Kwarnas Pramuka.

image

Menurut Ibu Linda, ada beberapa peran perempuan yang bisa dilakukan sebagai implementasi dari upaya bela negara. Sebagai individu,

  1. pertama, perempuan perlu meningkatkan kualitas diri dengan terus belajar dan menambah pengetahuan.
  2. Kedua, perempuan perlu menjadi individu yang bisa diteladani (cerdas, mandiri, tangguh, dan cinta tanah air).

    Selain itu, sebagai aktivis organisasi maka perempuan perlu menyusun dan melaksanakan program organisasi yang mampu menjawab tantangan ke depan, khususnya membentuk karakter masyarakat yang cinta tanah air dan bertanggung jawab, serta mampu eksis di era globalisasi.

Selain itu yang utama adalah selalu mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok, ataupun golongan.

Adapun menurut Bapak Andi Irman Putra Sidin, peran kaum perempuan sekarang lebih berat daripada dulu. Peran Ibu adalah sebagai ujung tombak dari pembentukan generasi penerus bangsa, sehingga perlu lebih mengedepankan eksistensi dirinya dengan cerdas. Jika semua kaum perempuan Indonesia seperti semua ibu yang hadir pada seminar ini, maka Bangsa Indonesia akan tiba pada kemajuannya.

Selanjutnya narasumber terakhir yaitu Sinta Ayu Lestari dari Dewan Kerja Nasional Kwarnas Pramuka, mengatakan bahwa semakin maju suatu bangsa akan semakin sulit juga bangsa tersebut untuk melindungi negaranya dari ancaman yang selalu datang silih berganti. Oleh sebab itu maka suatu bangsa perlu adanya bela negara. Bela negara adalah tekad, sikap, dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya oleh NKRI, yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup Bangsa dan Negara.

Bela Negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer dan militerisme, seolah-olah kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada TNI. Padahal berdasarkan Pasal 30 UUD 1945, bela negara merupakan hak dan tanggung jawab setiap warga negara Republik Indonesia untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.

image
image

(Humas Kowani)

KEMERIAHAN JALAN SEHAT HARI IBU 2015

image
6 Des/PHI/YR/Jalan Sehat
JAKARTA–Warta Kowani — : Sedikitnya 2.150 orang ibu tumplek di kawasan Kantor Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Jl. Imam Bonjol 58, Menteng, Jakarta. Mareka memakai seragam kaos warna ungu, sehingga sepanjang jalan tersebut tampak lautan nuansa ungu.
Para perempuan tersebut mengikuti kegiatan Fun Walk dan Belly Danxercise yang diadakan oleh Kowani, bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak RI, Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI), serta Prenagen dan KlikDokter.com Minggu, 6 Desember 2015.
Jalan Santai dan Sehat ini bertujuan untuk mengajak seluruh pihak, khususnya ibu hamil, untuk memperhatikan kesehatan dirinya dan kandungannya, sesuai temanya yaitu “Fun Walk Langkah Pasti Menurunkan Angka Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan 2015″.
Kegiatan ini antara lain dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Prof. Yohana Yembise, Ketua Umum Kowani DR. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., istri Menteri Keuangan RI Ibu Bambang S. Brodjonegoro, istri Wakil Gubernur DKI Ibu Happy Djarot, istri Pangdam Jaya Ibu Teddy Laksamana, dan para Ketua serta Pengurus Pusat perwakilan dari 86 organisasi perempuan yang berfederasi pada Kowani.
Jalan Sehat yang berlangsung sejak pagi Pukul 06.00 dimulai dari depan Kantor Kowani Jl. Imam Bonjol 58, terus berlanjut ke Taman Suropati, Bundaran HI, dan berakhir kembali ke titik awal.
Kegiatan yang merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Ibu ke-87 tahun 2015 ini, juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran agar tahu, mau dan mampu berperan dalam pentingnya keselamatan ibu hamil dan melahirkan, dengan membangun budaya proaktif dan kondusif untuk ibu dan anak Indonesia.

128

“Berjalan sehat dengan cara yang menyenangkan akan membuat tubuh sehat dan rileks, sehingga ibu akan merasa lebih bahagia dalam menjalani hari-harinya,” ujar Ibu Giwo dalam sambutannya.
Tak terbatas hanya ibu hamil, lanjutnya, jalan sehat ini juga sebagai langkah pasti dalam usaha menurunkan angka kematian ibu hamil dan melahirkan.
Belly Dance, tambahnya, juga berguna untuk menjaga kebugaran fisik dan mental selama menjalani kehamilan. Melatih otot-otot yang berkaitan dengan persalinan, sehingga diharapkan proses persalinan akan lebih mudah dan lancar.
Belly Dance ini bisa diterapkan untuk membuat jenis senam hamil yang lebih energik dan menyenangkan. Mengingat olahraga ini berpusat pada perut dan pinggang, belly dance untuk ibu hamil akan membantu menperkuat otot perut dan panggul serta membantu membentuk tubuh yang lebih indah.
Otot lengan, dada, perut, serta panggul juga akan semakin kencang dengan melakukan olah raga ini. Belly dance juga memberikan efek relaksasi pada otot perut dan pinggul sehingga proses persalinan akan jauh lebih lancar.
Sistem pernafasan juga akan lebih teratur sehingga proses persalinan pun akan jauh lebih terbantu. Gerakan artistik serta feminin dalam belly dance membantu ibu hamil meningkatkan rasa percaya diri sehingga bisa lebih menikmati proses kehamilan.
“Dengan mengikuti fun walk dan belly dance ini tubuh sehat, fit, dan siap melahirkan calon-calon pemimpin bangsa selanjutnya,” tandasnya.
Kowani berharap melalui kegiatan fun walk dan belly dance ini semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya ikut berkontribusi menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI).
Mengutip Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012, Ibu Giwo mengatakan, AKI di Indonesia mencapai 359 dari 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) 32 dari 1000 kelahiran hidup.
“Kami mengajak semua pihak baik pemerintah, masyarakat, organisasi perempuan, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, dunia usaha, dan laki-laki sebagai suami, untuk menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi,” ujarnya.
Kematian ibu melahirkan itu sendiri 30 persen dikarenakan perdarahan, 20 persen lainnya karena eklamsi (kejang).
“Kasus-kasus tersebut bisa dihindari jika sejak awal kehamilan seorang ibu memahami hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan dan bahayanya,” tegasnya.

.image

Dalam Sambutannya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Ibu Yohana Susana Yembise, yang membuka kegiatan fun walk, turut prihatin dengan fakta yang dihadapi oleh ibu melahirkan. Yohana pun meminta masyarakat memberikan dukungan moral bagi ibu hamil demi menghadapi proses persalinan.

Dikatakan, dukungan moral dan olah raga yang cukup bagi ibu hamil adalah beberapa faktor yang dapat mendukung penurunan angka kematian ibu melahirkan.

“Kita harus berupaya keras untuk bersama-sama berjuang menurunkan angka kematian ibu melahirkan,” tambahnya

Menurutnya, peringatan Hari Ibu bertema “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Mewujudkan Lingkungan yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak” adalah merupakan momen kebangkitan bagi para ibu.

image

Usai Sambutan Menteri PPPA RI, dilakukan Penyematan Pin Pita Putih oleh Ibu Giwo yang juga selaku Ketua Umum APPI, kepada Ibu Yohana beserta para tokoh perempuan atau Ketua organisasi perempuan yang hadir dalam acara tersebut.

Pita Putih merupakan simbol dari gerakan dunia untuk program “safe motherhood”, yang dilaksanakan melalui upaya penurunan AKI.

image

image

Pada acara Jalan Sehat yang juga merupakan Kampanye untuk menekan AKI ini, dilakukan pembagian doorprize dan aneka lomba seperti lomba dansa, lomba live tweet fun walk, sembari dihibur oleh salah seorang personil Trio Libels Ronnie Sianturi. Pasar Murah juga digelar dalam acara ini, yang menjual aneka makanan dan minuman serta pakaian dan asesoris, juga terdapat garage sale yang memang khusus diperuntukkan bagi para peserta Jalan Sehat.

image

image

image

(Humas Kowani)

KOWANI Selenggarakan Nobar Menyambut Hari Ibu

Jakarta, KOWANI — Kamis, 12 November 2015, KOWANI menyelenggarakan Nonton Bareng (Nobar) Film “Air Mata Surga”, bersama seluruh Organisasi Wanita Anggota Kowani, bekerja sama dengan Tujuh Bintang Sinema, bertempat di Studio 1 XXI Theater Cinema Plaza Senayan, Jakarta Pusat.

image
image

Hadir pada acara ini, Ketua Umum KOWANI, DR. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. beserta Dewan Pimpinan KOWANI dan para Ketua Umum atau Wakil Ketua Umum dari 86 organisasi wanita anggota KOWANI, beserta perwakilan Pengurus masing-masing organisasi, seperti dari organisasi Persit Kartika Chandra Kirana, Perip, Dian Kemala, Jalasenastri, PIA Ardhya Garini, Bhayangkari, Pepabri, Kosgoro, Perwari, Budi Istri, GWS, IKWI, IKA-Boga, Piveri, dan lain-lain.

Hadir pula para pemeran Film “Air Mata Surga”, di antaranya Richard Kevin, Roewina, Ayu Dyah Pasha, didampingi oleh salah satu Produser Tujuh Bintang Sinema yaitu Agung Saputra.

Pada kesempatan ini, Ketua Umum KOWANI memberikan Keterangan Pers kepada para awak Media Cetak dan Elektronik, sehubungan dengan penyelenggaraan acara Nobar tersebut. Acara yang diadakan dalam rangka menyambut Peringatan Hari Ibu ke-87 Tahun 2015 itu merupakan suatu bentuk apresiasi Kowani terhadap perjuangan kaum wanita Indonesia. Menurutnya, film itu sejalan dengan misi Kowani yang menginginkan perempuan bermartabat dan berdaya juang.

”Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Ibu (PHI) yang jatuh pada 22 Desember 2015 mendatang. Tokoh perempuan dalam film ini sangat menginspirasi buat saya dan juga mengangkat kesetaraan gender. Makanya, saya mengajak teman-teman Kowani lain untuk menonton film ini, sekaligus sebagai media silaturahmi,” jelasnya. Melalui kegiatan ini juga, Ibu Giwo berharap organisasi masyarakat lainnya juga dapat melakukan hal serupa sebagai bentuk dukungan terhadap perfilman Indonesia yang merupakan karya anak bangsa.

image

Film “Air Mata Surga” bergenre drama ini merupakan film yang diproduksi pada Tahun 2015 oleh Tujuh Bintang Sinema, disutradarai oleh Hestu Saputra dan naskahnya ditulis oleh Rahabi Mandra, Titien Wattimena, Lintang Pramudya, serta diproduseri oleh Lela Tresna, Agung Saputra, dan Dave Gerald. Adapun pembuatan film ini memakan waktu 8 bulan lamanya, dengan para pemeran Dewi Sandra, Richard Kevin, Morgan Oey, Roewina, Adhitya Putri, Ayu Dyah Pasha.

Film “Air Mata Surga” ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan dalam mempertahankan cintanya hingga akhir hayat. Fikri, seorang Doktor Ahli Desain sekaligus lulusan Maha Santri di Jakarta meminang seorang perempuan bernama Fisha. Fisha merupakan mahasiswi S-2 dari Yogyakarta yang belum lama dikenalnya. Bagi Fikri, Fisha adalah ranting terindah yang pernah dia temui di belantara kehidupan ini, sehingga dia tidak perlu menunggu berlama-lama.

Hamzah, teman Fisha sejak kecil sudah lama menaruh hati pada Fisha. Bahkan Bunda, ibunda Fisha dan Weni yang tak lain adalah sahabat Fisha, juga mendukung kedekatan mereka. Tapi Fisha mengganggap Hamzah seperti kakaknya sendiri. Mustahil baginya untuk bisa memiliki perasaan lebih dari itu. Di sisi lain, hubungan Fisha dengan Halimah yakni ibu Fikri sendiri kurang harmonis. Pasalnya, sudah sejak lama Halimah menjodohkan Fikri dengan anak dari sahabat almarhum suaminya.

Suatu hari, takdir berkata lain, malang tidak dapat ditolak, Fisha mengalami keguguran sampai dua kali. Fisha sangat sedih dan terpukul dengan apa yang menimpa dirinya, namun Fikri tidak pernah menyalahkan Fisha sedikitpun akan hal itu. Hingga suatu hari saat Fikri bekerja di luar kota, Fisha mengalami kesakitan yang luar biasa di perutnya hingga tak sadarkan diri.

Dokter menyatakan bahwa Fisha didiagnoga terkena kanker rahim stadium akhir. Itulah sebabnya mengapa dia sangat sulit hamil selama ini. Mengetahui bahwa waktunya tak banyak lagi dan tak akan bisa memiliki anak, Fisha pun mengambil langkah pengorbanan yang luar biasa sebagai seorang istri. Pengorbanan yang membuktikan bahwa cinta sejati hadir dalam hati seorang wanita.

image
image

Seminar Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Seminar Pencapaian SDGs

121

Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M sebagai Keynote Speaker pada seminar Pencapaian SDGsRabu,

9 Desember 2015 | 17:40 WIB

122

123


Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto Wiyogo, mengatakan perempuan harus turut serta dalam memerangi korupsi di Tanah Air.

“Sebelum kemerdekaan

124

Kowani : Perempuan harus Turut Serta Perangi Korupsi di Tanah Air

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto Wiyogo, mengatakan perempuan harus turut serta dalam memerangi korupsi di Tanah Air.

“Sebelum kemerdekaan, perempuan menggalang persatuan dan kesatuan untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar Giwo dalam pembukaan seminar di Jakarta, Rabu (9/12/2015).

Perjuangan kaum perempuan di Tanah Air itu dibuktikan melalui pembentukan Kowani pada 22 Desember 1928.

“Jadi Hari Ibu yang diperingati oleh kita setiap tanggal 22 Desember bukan sekedar hari ibu seperti yang terjadi di Barat, tetapi sejarah hari ibu merupakan sejarah besar. Episode penting sejarah Indonesia,” jelas dia.

Pascakemerdekaan, lanjut Giwo, perempuan harus bersatu dan menjadi satu kesatuan dalam mengisi kemerdekaan.

“Sinergi antarorganisasi perempuan juga ditingkatkan. Ini merupakan peran besar kita,” cetus dia.

Perempuan juga harus menjadi penanam moral yang baik untuk meredam, menyaring dan memelihara dari hal-hal negatif seperti korupsi.

“Korupsi merupakan masalah moral, bukti penyimpangan moral dan etika,” jelas dia.

Hari Anti Korupsi diperingati setiap 9 Desember. Sejumlah politisi perempuan di Tanah Air tersandung masalah korupsi seperti Ratu Atut Chosyiah, Angelina Sondakh, hingga Wa Ode Nurhayati.

Pada 9 Desember tahun ini pula, dilangsungkan Pilkada serentak untuk memilih 269 kepala daerah tingkat provinsi, kota dan kabupaten.

Sejumlah politisi perempuan juga ikut serta dalam Pilkada serentak itu seperti itu Tri Rismaharini, Airin Rachmi Diany, dan lainnya.

Kiki Kurnia

Sumber: http://www.galamedianews.com/index.php?menu=nasional&id=58972&judul=kowani–perempuan-harus-turut-serta-perangi-korupsi-di-tanah-air

Ketua Umum Kowani Membuka Muktamar IIDI XX

Jakarta, KOWANI — Ketua Umum Kowani, Dr.Ir.Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., berharap pengurus IIDI dan para kadernya melalui muktamar kali ini dapat mengoptimalkan dalam melakukan hal-hal strategis antara lain: membangun kebersamaan dalam satu visi, pemantapan komitmen dan merealisasikan strategis taktis kebijakan IIDI; terus melakukan konsolidasi seluruh kekuatan IIDI untuk meningkatkan fungsi, peran dan kedudukan gerakan sosial-politik, pendidikan dan kesehatan sebagaimana yang selalu menjadi perhatian IIDI selama ini; tanpa mengenal lelah berupaya meningkatkan kapasitas SDM IIDI untuk berkiprah di masyarakat dan bangsa; serta secara sadar terus mengupayakan sinergisitas antar sesama anggota dengan kementerian kesehatan, para Dokter, periset dan juga selalu meng up-date bidang IPTEK. Hal itu disampaikannya saat membuka dan memberi sambutan pada acara Muktamar ke XX  Organisasi Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), di Hotel Emerald Garden Medan, Kamis (19/11).

 

Ketua Umum memberi sambutan
Ketua Umum Kowani memberi sambutan

Ibu Giwo yang pada acara tersebut didampingi Ibu Nuning K. Siregar (Ketua) dan Ibu Ery Simandjuntak (Kabid Humas) menilai, kasus kekerasan terhadap anak, hingga kini belum jadi prioritas. Karenanya, dia mengajak organisasi dan Komnas perempuan termasuk IIDI untuk turun ke jalan 6 Desember 2015, guna memperjuangan RUU anti kekerasan seksual terhadap anak. Sebab, tahun ini RUU sudah tidak menjadi prioritas utama.

Sementara itu Ketua Umum IIDI, Drh. Ani Agus Purwadianto, M.Si. mengatakan IIDI prihatin terhadap kekerasan yang dialami anak bangsa. Dalam muktamar XX ini, IIDI mengambil tema tentang peran serta mencegah tindak kekerasan pada ibu dan anak menuju masyarakat sehat, bermoral dan bermartabat.

Hadir Istri PLT Gubernur Sumatera Utara Ny.Hj. Evi Diana tengku Erry Nuradi; Ketua Cabang Medan Ny. Fahrizar Iskandar Hasibuan; Panpel Ny. Zakaria Siregar; Ketua Umum BKOW Sumatera Utara, Ny. kemalawati AE, SE; Anggota T.P. PKK Provinsi Sumatera Utara, Ny. Suryati Ramdiman Tarigan; Isteri Rektor Sumatera Utara, Ny. Dr. Regulina Ginting S. serta undangan lainnya.

Salah satu agenda yang sangat penting pada muktamar yang dihadiri IIDI dari Cabang seluruh Indonesia dengan jumlah Anggota 5.614 orang ini adalah Pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Istri Dokter Indonesia, Masa Bakti 2015 – 2018. Saat ini telah ditetapkan 3 Bakal Calon KU PB IIDI, yaitu : dr. Ny. Murdiati Umbas, Ny. Madyaningsih Aminullah dan Ny. Haslinda D. Abidinsyah, SE, MSi.

KONGRES X PERSATUAN ISTRI INSINYUR INDONESIA ( PIII )

pemukulan gong oleh Ketua Umum Kowani, Dr.Ir Giwo Rubianto Wiyogo, MPd
Pemukulan gong oleh Ketua Umum Kowani, Dr.Ir Giwo Rubianto Wiyogo, MPd

Jakarta, KOWANI — Persatuan Istri Insinyur Indonesia masuk menjadi anggota Kongres Wanita Indonesia(Kowani) pada tahun 1980 dan didirikan pada tanggal 22 November 1967 di Jakarta, merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang beranggotakan istri dan janda insinyur atau sarjana tehnik, serta perempuan bertitel insinyur atau sarjana tehnik yang menghimpun diri dalam rangka meningkatkan darma bakti kepada bangsa Negara Indonesia.

Sesuai dengan Anggaran Dasar PIII, kongres diselenggarakan sekali dalam 5 (lima) tahun untuk : memilih dan menetapkan Ketua Umum, merubah dan menetapkan AD dan ART, menetapkan program kerja dan menetapkan tempat penyelenggaraan kongres berikutnya.

Berdasarkan visi dan misi PIII, dalam kurun waktu tahun 2011 sampai dengan akan diadakannya Kongres X PIII, secara berkesinambungan pengurus PIII beserta anggotanya melaksanakan kegiatannya antara lain bakti sosial kepada masyarakat kurang mampu, memberikan beasiswa pendidikan, memberikan bantuan bagi korban bencana alam (banjir, longsor, letusan gunung berapi), mengadakan gerakan penghijauan di lahan sekolah yang membutuhkan.

Dalam rangka menyambut penyelenggaraan Kongres X PIII yang diadakan di kota Semarang dan sekaligus memperingati HUT PIII ke 48, dengan tema ”Melalui Gerakan AYO KERJA, Persatuan Istri Insinyur Indonesia (PIII) mendukung Pembangunan Nasional berkelanjutan telah dilaksanakan serangkaian kegiatan yaitu :

  • Mengadakan pelatihan membatik bagi laki perempuan dewasa dan remaja dari keluarga yang perlu ditingkatkan ekonomi keluarganya, diikuti oleh 100 Orang. Kegiatan ini bekerjasama dengan Lembaga Koordinator Kesejahteraan Sosial (LK2S) dan Dekranasda Propinsi Jawa Tengah.
  • Memberikan bantuan alat permainan pendidikan bagi PAUD (pendidikan anak usia dini) binaan PIII.
  • Mengumpulkan sejumlah dana untuk bantuan pendidikan.

 

Kegiatan penunjang lainnya pada tanggal 23 Nopember 2015 diadakan Dialog Interaktif Nasional dengan bahasan ”Ekonomi Kreatif” sebagai pembicara Drs Tavip Supriyanto. Selain itu digelar Bazaar dan Pameran produk anggota PIII.

Kongres X PIII pada tanggal 23 November 2015 bertempat di Ballroom Hotel Gumaya Semarang dibuka secara resmi, ditandai dengan pemukulan gong oleh Ketua Umum Kowani, DR.Ir Giwo Rubianto Wiyogo, MPd dan disaksikan undangan VIP, Deputi I Kementerian PP&PA, Ir Siti Khadijah Nasution MSc, Wakil Ketua PII, Ir Hermanto Dardak MSc, Kepala Badan PP&PA Jateng mewakili Gubernur Prop Jateng, Pj Walikota Semarang, Drs Tavip Suprianyanto Msi, para sespuh PIII dari Jakarta dan Jateng . Kongres X PIII yang berlansung selama 2 hari dihadiri oleh seluruh pengurus pusat PIII, 11 Perwakilan Propinsi PIII, 3 Perwakilan Khusus dan 19 Cabang PIII yang tersebar diwilayah Indonesia. Dalam pemilihan Ketua Umum yang berjalan dengan tertib, telah terpilih Ir. Nia Wardini Said Didu sebagai Ketua Umum PIII periode tahun 2015 – 2020 menggantikan Ir. Endang W Rama Boedi MSc.

Penandatanganan Serah Terima Jabatan dari Ketua Umum PIII periode 2010-2015 kepada Ketua Umum PIII 2015-2020
Penandatanganan Serah Terima Jabatan dari Ketua Umum PIII periode 2010-2015 kepada Ketua Umum PIII 2015-2020

Pengurus PIII DKI Jakarta foto bersama
Pengurus PIII DKI Jakarta foto bersama

Ziarah dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-87 Tahun 2015

103

Jakarta, KOWANI — Selasa, 15 Desember 2015 Pukul 07.00 WIB dilaksanakan Ziarah sebagai kegiatan pamungkas dari seluruh rangkaian kegiatan Peringatan Hari Ibu ke-87 sebelum acara puncak PHI Tahun 2015, yang dilaksanakan oleh Panitia Nasional. Upacara Ziarah dipimpin oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Prof. Yohana Yembise, bertempat di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

 

102
Penghormatan kepada Arwah Pahlawan dipimpin oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI selaku Pimpinan Ziarah Rombongan

Hadir pada Upacara Ziarah ini, para Ketua Umum Organisasi Besar mitra Kowani dari:

  1. Dharma Pertiwi,
  2. OASE Kabinet Kerja,
  3. Bhayangkari,
  4. Dharma Wanita Persatuan,
  5. Tim Penggerak PKK,

serta dari unsur Organisasi Anggota Kowani seperti:

  • Persit Kartika Chandra Kirana,
  • IKKT,
  • Jalasenastri,
  • PIA Ardhya Garini,
  • PIII,
  • Pepabri,
  • Perip,
  • PWKI,
  • WHDI,
  • WKRI,
  • Perwari,
  • dan lain-lain.

104
                                                                 Penghormatan di pusara pahlawan bangsa.

105

Tabur bunga oleh Meneg PPPA dan Ketua Umum KOWANI.

106

Tabur bunga oleh para Ketua Umum / Ketua Organisasi Wanita : Jalasenastri, Bhayangkari, KOWANI, Dharma Pertiwi, Persit Kartika Chandra Kirana, dan PIA Ardhya Garini.

107

108

Penandatanganan Buku Tamu oleh Meneg PPPA didampingi oleh para Ketua Umum organisasi wanita.

109

111

Meneg PPPA bersama para Ketua Umum organisasi wanita pada acara Ziarah dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-87 Tahun 2015.

112

Penyerahan tali asih kepada para petugas Taman Makam Pahlawan Kalibata.

image
image
image
image
Pengurus KOWANI.

image

image

Tatap Muka Pelaku Sejarah, Tokoh Perempuan, dan Pimpinan Organisasi Perempuan

6
Ketua Umum PHI, Dr.Ir.Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. membuka acara dengan Pemukulan Gong
5
Menteri Sosial,Hj. Khofifah Indar Parawansa sebagai Keynote Speaker

7

Prof.Dr. Nasarudin Umar, MA dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas sebagai Narasumber

8

Tim Paduan Suara dari Kowani

Kasus Istri Gugat Cerai MeningkatTajam

Senin, 14 Desember 2015 — 15:29 WIB

JAKARTA (Pos Kota)- Perceraian dengan gugat cerai (istri yang menceraikan suami), cenderung meningkat tajam. Dalam beberapa tahun terakhir diperkirakan 75 persen peceraian akibat gugat cerai.

“Sekarang ada kecenderungan perempuan lebih berani untuk mengambil keputusan cerai,” kata Nasarudin Umar, guru besar Ilmu Tafsir UIN di sela tatap muka pelaku sejarah tokoh perempuan dan pimpinan organisasi perempuan yang digelar Kowani, Senin (14/12).

Ada 13 faktor yang menjadi pemicu perceraian dalam rumah tangga.Tetapi menurut Nasarudin, kasus poligami dan masalah ekonomi menjadi penyebab tertinggi kasus perceraian.

Nasarudin mengingatkan kasus gugat cerai harus diperhatikan betul oleh kaum perempuan.Karena gugat cerai membawa konsekuensi berat utamanya masalah ekonomi.

“Istri yang menggugat cerai, ketika perceraian sudah diputuskan maka tidak ada kewajiban suami untuk memberikan nafkah atau uang idah dan lainnya,” lanjut Nasaruddin.

 Kemandirian Perempuan

Sementara itu Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto mengatakan kemandirian perempuan dalam hal ekonomi menjadi salah satu penyebab mengapa sekarang perempuan berani menggugat cerai suami.Tetapi keberanian ini sebenarnya sudah kebablasan.

“Jangan karena mandiri secara ekonomi, tidak bergantung pada uang suami, lantas dengan mudah menggugat cerai,” kata Giwo.

Sebab perceraian tidak hanya akan berakibat bagi si perempuan itu sendiri. Tetapi juga situasi dan kondisi anak-anak harus menjadi pertimbangan semua perempuan yang hendak bercerai.
“Cerai akan membuat anak-anak terganggu. Bagaimanapun mereka tidak akan nyaman apalagi jika masing-masing orangtua kemudian memiliki pasangan,” lanjut Giwo.

 Kemiskinan Baru

Selain itu perceraian sering menimbulkan kemiskinan baru.Utamanya jika perempuan mendapatkan hak asuh anak sementara suami tidak konsekuen mengirimkan nafkah bagi anak-anaknya.

Karena itu Giwo meminta agar perempuan yang memang memiliki masalah dalam
perkawinannya agar dipikirkan baik-baik sebelum memutuskan cerai.Konsultasikan dengan baik kepada pihak yang berkompeten, pertimbangkan sisi negatifnya. (Inung/win)

Sumber : http://poskotanews.com/2015/12/14/kasus-istri-gugat-cerai-meningkat-tajam/

Perceraian Timbulkan Kemiskinan Baru

Senin, 14 Des 2015

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo (tengah, berbaju hijau)) bersama anggota Kowani
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo (tengah, berbaju hijau)) bersama Pengurus Kowani

JAKARTA (Pos Sore) – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Giwo Rubianto Wiyogo, berpendapat, perceraian sering menimbulkan kemiskinan baru.

Utamanya jika perempuan mendapatkan hak asuh anak sementara suami tidak konsekuen mengirimkan nafkah bagi anak-anaknya.

Karena itu, Giwo yang juga Ketua Umum Panitia Peringatan Hari Ibu ke-87, meminta suami dan istri yang memang memiliki masalah dalam perkawinannya agar nerpikir matang sebelum memutuskan bercerai.

“Konsultasikan dengan baik kepada pihak yang berkompeten, pertimbangkan sisi negatifnya,” ujar Giwo usai diskusi ‘Tatap Muka Pelaku Sejarah Tokoh Perempuan dan Pimpinan Organisasi Perempuan’, di Jakarta, Senin (14/12).

Diskusi bertema ‘Inspirasi Pejuang dan Pemimpin Perempuan dalam Menggapai Cita-cita Menuju Kesetaraan Gender’ ini diadakan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-87.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, usai memberikan keynote speech pada pertemuan itu meminta semua pihak harus melakukan penguatan agar terjadi penurunan angka gugat cerai, karena yang menjadi korban dipastikan anak-anak mereka,

“Memutuskan pernikahan itu harus benar-benar matang, karena ada risiko dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh kedua pasangan, khususnya setelah anak-anak lahir,” tandasnya.

Menurut Mensos, berbagai permasalahan yang terjadi, seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan anak dan perempuan hulunya dari pernikahan dini, serta pernikahan yang tidak tercatatkan dan teradministrasikan.

Jika dilihat dari segi persentasi masalah, setidaknya lebih 75 persen pernikahan yang tidak dicatatkan dan teradministrasikan itu memiliki risiko dan kerentanan terhadap anak-anak dan pernikahan itu sendiri.

“Untuk mendapatkan pernikahan sejahtera, agar menghindari pernikahan dini dan tidak tercacatkan. Sebab, UU No 1 tahun 1974 menyebut umur perkawian perempuan 16 tahun mesti direvisi seiring regulasi yang ada,” katanya. (tety)

Sumber : http://possore.com/2015/12/14/perceraian-timbulkan-kemiskinan-baru/

 

75 Persen Perceraian Bermula dari Gugatan Istri-JPNN.com

JAKARTA – Angka perceraian akibat gugat cerai (istri ceraikan suami) belakangan ini cukup tinggi. Kecenderungan itu dalam beberapa tahun terakhir diperkirakan mencapai 75 persen perceraian akibat gugat cerai.

“Beberapa tahun terakhir ini ada kecenderungan perempuan lebih berani untuk mengambil keputusan cerai,” ucap Guru Besar Ilmu Tafsir UIN, Nasarudin Umar saat acara Tatap Muka Pelaku Sejarah Tokoh Perempuan yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kowani, Jakarta, Senin (14/12).

Data Kementerian Agama tahun 2014 menyebutkan setiap tahun ada dua juta pasangan yang menikah. Sementara angka perceraian menunjukkan 215.000 pasangan berpisah setiap tahun.

Parahnya, mayoritas perceraian terjadi di rumah tangga yang menikah dini. Sehingga ketika berpisah, perempuan dan anak berada di garis kemiskinan lantaran tidak memiliki sumber nafkah. “Ada 13 faktor yang menjadi pemicu perceraian dalam rumah tangga. Tetapi, kasus poligami dan masalah ekonomi menjadi penyebab tertinggi kasus perceraian,” tukas Nasarudin.

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo menambahkan kemandirian perempuan dalam hal ekonomi menjadi salah satu penyebab mengapa sekarang perempuan berani menggugat cerai suami. Tetapi keberanian ini sebenarnya sudah kebablasan. “Jangan karena mandiri secara ekonomi, tidak bergantung pada uang suami, lantas dengan mudah menggugat cerai,” lontarnya. (nas/fdi/dil/jpnn)

jpnn.com, 15. 12. 2015 08:15 am

Sumber : http://halloindo.com/a1911544/root_hrefSharePath

 

 

Istri Gugat Cerai Capai 75 Persen

indopos

15 Desember 2015

JAKARTA– Angka perceraian akibat gugat cerai (istri ceraikan suami) belakangan ini cukup tinggi. Kecenderungan itu dalam beberapa tahun terakhir diperkirakan mencapai 75 persen perceraian akibat gugat cerai.

“Beberapa tahun terakhir ini ada kecenderungan perempuan lebih berani untuk mengambil keputusan cerai,” ucap Guru Besar Ilmu Tafsir UIN, Nasarudin Umar saat acara Tatap Muka Pelaku Sejarah Tokoh Perempuan yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kowani, Jakarta, Senin (14/12).

Data Kementerian Agama tahun 2014 menyebutkan setiap tahun ada dua juta pasangan yang menikah. Sementara angka perceraian menunjukkan 215.000 pasangan berpisah setiap tahun. Mayoritas perceraian terjadi di rumah tangga yang menikah dini sehingga ketika berpisah, perempuan dan anak berada di garis kemiskinan akibat tidak memiliki nafkah. “Ada 13 faktor yang menjadi pemicu perceraian dalam rumah tangga. Tetapi, kasus poligami dan masalah ekonomi menjadi penyebab tertinggi kasus perceraian,” tukas Nasarudin.

Ia menambahkan, untuk kasus gugat cerai harus diperhatikan betul oleh kaum perempuan karena gugat cerai membawa konsekuensi berat utamanya masalah ekonomi. “Istri yang menggugat cerai, ketika perceraian sudah diputuskan maka tidak ada kewajiban suami untuk memberikan nafkah atau uang idah dan lainnya,” tukas Nasarudin.

Nasarudin menghimbau, agama hendaknya tidak digunakan untuk memojokkan perempuan. Tetapi justru sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan jender sehingga seluruh anggota masyarakat Indonesia bisa optimal berkembang. “Artinya, perlu diadakan pemutakhiran tafsir ayat-ayat suci agar bisa relevan dengan keadaan sosial masyarakat Indonesia,” papar dia.

Dikesempatan yang sama, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo menambahkan kemandirian perempuan dalam hal ekonomi menjadi salah satu penyebab mengapa sekarang perempuan berani menggugat cerai suami. Tetapi keberanian ini sebenarnya sudah kebablasan. “Jangan karena mandiri secara ekonomi, tidak bergantung pada uang suami, lantas dengan mudah menggugat cerai,” lontarnya.

Ia menjelaskan, bahwa perceraian tidak hanya akan berakibat bagi si perempuan itu sendiri. Tetapi juga situasi dan kondisi anak-anak harus menjadi pertimbangan semua perempuan yang hendak bercerai. “Cerai akan membuat anak-anak terganggu. Bagaimanapun mereka tidak akan nyaman apalagi jika masing-masing orangtua kemudian memiliki pasangan,” tegas Giwo.

Selain itu, Staf Ahli Menteri PP dan PA Bidang Hubungan Internasional, Luly Altruiswaty, mengatakan perempuan berperan penting dalam pembangunan karena perempuan merefleksikan pelaku sekaligus penerima pembangunan. “Kiprah perempuan, utamanya perempuan pejuang, sangat penting sebagai mitra sejajar kaum laki-laki dalam merebut dan mengisi kemerdekaan,” lontar dia.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menilai tingginya kasus gugat cerai yang dilakukan perempuan banyak menimpa mereka yang melakukan pernikahan dini. Imbasnya, kata Khofifah, anak yang menjadi korban.

“Gugat cerai pernikahan dini tidak hanya dini usia, tapi juga dilakukan pada usia pernikahan di bawah 5 tahun. Faktor penyebabnya karena tingkat kematangan perempuan dalam mengambil keputusan untuk memulai pernikahan,” bebernya.

Harus diakui, kata Khofifah, berbagai permasalahan yang terjadi, seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan anak dan perempuan itu hanya dari pernikahan dini dan pernikahan yang tidak tercatatkan, serta teradministrasikan. Termasuk, menurutnya usia pernikahan di bawah lima tahun yang rentan terhadap berbagai masalah KDRT, kekerasan terhadap anak dan perempuan.

“Untuk mendapatkan pernikahan sejahtera, agar menghindari pernikahan dini dan tidak tercacatkan. Sebab, UU No 1 tahun 1974 menyebut umur perkawian perempuan 16 tahun mesti direvisi seiring regulasi yang ada,” ungkapnya.

Sementara, Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, mengutarakan kekecewaannya dengan belum disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesetaraan dan Keadilan Jender oleh DPR. “Ini bukan masalah jenis kelamin, melainkan keadilan yang merupakan hak asasi rakyat Indonesia,” terangnya.

Menurut Hemas, RUU tersebut sudah diperjuangkan sejak 2009, tetapi belum bisa masuk ke dalam Program Legislasi Nasional. “Oleh karena itu, saya mengimbau semua penduduk Indonesia agar memahami bahwa perjuangan kaum perempuan merupakan perjuangan bangsa,” imbuh dia. (nas/fdi)

Sumber: http://www.radarsolo.co.id/nasional/4548-istri-gugat-cerai-capai-75-persen.html

KOWANI ADAKAN LOMBA SAMBUT HARI IBU 2015

Jakata, KOWANI — Dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-87 tahun 2015, KOWANI mengadakan lomba karya tulis bagi ibu rumah tangga yang selama ini kurang mendapatkan kesempatan untuk menuangkan pikirannya dalam bentuk karya tulis. Melalui kegiatan ini diharapkan kaum perempuan Indonesia bisa memberikan kontribusi pemikiran tentang pentingnya penguatan bagi kaum perempuan dalam upaya meningkatkan kualitas masyarakat.

Tema:
“Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki dalam Mewujudkan Lingkungan yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak”

Subtema:

  1. Penguatan pendidikan karakter dan pekerti bangsa untuk menekan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak
  2. Penguatan pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis masyarakat
  3. Penguatan ketahanan keluarga untuk perlindungan perempuan dan anak
  4. Penguatan promosi, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak
  5. Toleransi dan kerukunan untuk keutuhan NKRI dimulai dari keluarga

 

Ketentuan:

  • Peserta adalah ibu rumah tangga dari seluruh Indonesia tanpa batasan usia.
  • Karya tulis yang dikirimkan belum pernah dipublikasikan.
  • Karya tulis diketik dengan spasi 1,5 pada kertas A4 dengan font Arial ukuran 12
  • Halaman pertama berisi judul dan nama penulis, diikuti dengan isi tulisan sepanjang 5-10  halaman, diakhiri dengan halaman berisi data dan riwayat hidup peserta
  • Karya tulis diterima panitia paling lambat tanggal 5 Desember 2015 pukul 23.59 di alamat: Sekretariat Panitia

Lomba Karya Tulis Bagi Ibu Rumah Tangga Peringatan Hari Ibu Ke-87 Tahun 2015 Kongres Wanita Indonesia Jl. Imam Bonjol No. 58 Jakarta Pusat atau dalam bentuk soft file ke email lombakaryatulis@kowani.or.id dengan Subject: Lomba Karya Tulis – Nama Penulis – Judul

  • Pengiriman dikonfirmasikan melalui SMS dengan format dikirimkan ke no. HP Widarmi 08118007488
  • Kriteria penilaian yaitu orisinalitas gagasan, kesesuaian dengan tema, penggunaan bahasa dan pemenuhan standar penulisan yang ditentukan.
  • Pemenang diumumkan 15 Desember 2015 melalui website dan media sosial Kowani.

Hadiah :

  • Juara I : Rp. 3.000.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara II : Rp. 2.000.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara III : Rp. 1.500.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara Harapan I : Rp 1.000.000 + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara Harapan II : Rp 750.000 + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara Harapan III : Rp 500.000 + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor

 

#KOWANI
#HariIbu2015
#LombaKaryaTulis

Lomba Karya Tulis bagi Ibu Rumah Tangga:

 

2. LOMBA KARYA TULIS BAGI PELAJAR SD/SMP/SMA/MAHASISWA

image

Dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-87 Tahun 2015, dengan tema “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Mewujudkan Lingkungan yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak”, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengadakan lomba mengarang / menulis bagi pelajar tingkat SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa.

Tema:
“Cerita Tentang Ibuku”

Kriteria tulisan adalah sebagai berikut:

  • Untuk Mahasiswa panjang tulisan 7.500 karakter, maksimal 5 halaman , 2 spasi.
  • Untuk SD/SMP/SMA, panjang tulisan 5.000 karakter, maksimal 3 halaman , 2 spasi.
  • Tulisan harus orisinil, karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan
  • Memenuhi kriteria jurnalistik 5W +1H (What, Who, Why, When, Where, and How)
  • Isi tulisan tidak mengandung SARA
  • Isi tulisan dapat memberikan inspirasi dan spirit
  • Karya tulis akan menjadi hak Panitia.

 

Karya tulis diterima oleh Panitia paling lambat 5 Desember 2015, dikirim ke Kantor Kowani, Jl.Imam Bonjol No. 58. Jakarta 10310
atau
diemail ke humas.kowani@yahoo.com / kowani1928@gmail.com / bundayoely@gmail.com dengan subjek:

Lomba Karya Tulis (pilih SD/SMP/SMA/Mahasiswa) –  Nama Penulis – Judul.

· Pengiriman dikonfirmasi melalui SMS dengan format   Spasi

kepada Ibu Yoely (08129188455) dan Ibu Suzan (08128160044).

Hadiah Masing-masing Kategori:

  • Juara I     : Rp 3.000.000,  Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara II    : Rp 2.000.000, Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara III   : Rp 1.500.000, Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor

 

#KOWANI
#HariIbu2015
#LombaKaryaTulis

Lomba Karya Tulis bagi Pelajar:

 

3. LOMBA FOTO SELFIE BAGI IBU RUMAH TANGGA DAN REMAJA PUTRI

image

Dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-87 Tahun 2015 yang bertema “Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki dalam Mewujudkan Lingkungan yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak”, KOWANI mengadakan Lomba Foto Diri (Selfie) bagi Ibu Rumah Tangga dan Remaja Putri. Melalui kegiatan ini diharapkan kaum perempuan Indonesia dapat memberikan kontribusinya pada penyusunan dokumentasi tentang pentingnya penguatan bagi kaum perempuan dalam upaya meningkatkan kualitas masyarakat.

Tema Foto:
“Mari kita #SayangiIbuDanAnak !”

Ketentuan Lomba:

  1. Peserta yang berhak mengikuti Lomba Foto Selfie ini adalah Warga Negara Indonesia (WNI) berusia minimal 15 Tahun saat lomba dilaksanakan.
  2. Peserta adalah ibu rumah tangga dan remaja putri, boleh merupakan individu atau perwakilan Organisasi Wanita Anggota KOWANI/Mitra Kowani/BKOW/GOW, yang sebelumnya wajib terlebih dahulu melakukan 4 hal sbb: Follow account Twitter @kowani1928 (http://www.twitter.com/kowani1928), like Facebook Fans Page Kongres Wanita Indonesia (http://www.facebook.com/kowani1928), add friend Facebook Humas Kowani (http://www.facebook.com/humas.kowani), dan/atau follow account instagram @kowani1928 (http://www.instagram.com/kowani1928), serta tidak mengunci / unlock account Twitter/Facebook/instagram masing-masing, agar dapat dilakukan komunikasi oleh Panitia dan account Peserta dapat dilihat oleh Tim Juri.
  3. Peserta mengirimkan foto diri (selfie) menghadap kamera (peserta boleh memotret dirinya sendiri, atau bisa dipotret oleh orang lain) yang menunjukkan peserta – sendiri atau berkelompok – tengah terlibat dalam kegiatan yang relevan dengan Tema Lomba atau sesuai dengan Slogan Peringatan Hari Ibu, yatu “Perempuan dan laki-laki setara, Indonesia maju”; “Perempuan bebas kekerasan, Indonesia bermartabat”; “Keluarga harmonis, masyarakat aman dan sejahtera”; dan “Perempuan maju dan mandiri, negara makmur”. Misalnya: foto diri saat kegiatan penimbangan balita di posyandu, kegiatan di rumah pintar, pelatihan yang dilaksanakan untuk remaja putri, kegiatan usaha wanita, gotong-royong, kegiatan kesenian, atau foto diri bersama kelompok dalam kegiatan bercocok tanam, dll.
  4. Foto yang diikutsertakan dalam lomba ini merupakan hasil kreativitas orisinil, milik sendiri, dan tidak boleh mengandung unsur SARA, politik, kekerasan, penganiayaan, atau semacamnya, serta tidak melanggar hak kekayaan intelektual maupun hak cipta pihak manapun.
  5. Foto yang berlaku adalah foto yang sukses diunggah selama periode lomba berlangsung dan peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 foto yang berbeda.Digital imaging diperbolehkan sebatas cropping, penyesuaian tingkat cahaya, kontras warna, dan saturasi, tanpa mengubah keaslian objek foto. Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi atau hasil olahan dari beberapa file.
  6. Foto setelah diunggah di media sosial masing-masing selanjutnya dikirimkan melalui media sosial dengan format:
  7. Mari kita #SayangiIbuDanAnak @kowani1928 (nama kegiatan), (nama tempat).

Contoh:

  • Twitter: Mari kita #SayangiIbuDanAnak @kowani1928 Balita Desaku Sehat dan Ceria, Flores.
  • Instagram (foto tag ke @kowani1928): Mari kita #SayangiIbuDanAnak @kowani1928 Perempuan Indonesia Cerdas Bahagia,  Lhokseumawe.
  • Facebook: foto ditandai sekaligus diunggah di Wall Kongres Wanita Indonesia dan Humas Kowani.

Selanjutnya foto dikirimkan dan dikonfirmasi melalui:

  • Mention account Twitter dan instagram @kowani1928
  • Menulis di Wall Facebook Page Kongres Wanita Indonesia http://www.facebook.com/kowani1928 atau di Wall Facebook Humas Kowani http://www.facebook.com/humas.kowani
  • dan
  • Dikonfirmasikan dengan format seperti di atas melalui email lombafoto@kowani.or.id dan/atau SMS ke No.HP Ny. Riffi 081367488520 atau Ny. Likha 082122055886.

 

  1. Pengiriman karya foto diterima Panitia paling lambat 5 Desember 2015 pukul 23.59 WIB.
  2. Seluruh data dan foto yang diterima Panitia akan menjadi hak milik KOWANI.

 

Pengumuman Pemenang Lomba:
15 Desember 2015, melalui website dan media sosial Kowani.

Hadiah:

  • Juara I   : Rp  3.000.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara II   : Rp  2.000.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara III   : Rp  1.500.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara Harapan I  : Rp  1.000.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara Harapan II  : Rp     750.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor
  • Juara Harapan III : Rp     500.000,- + Piala + Piagam + Hadiah dari Sponsor

 

#KOWANI
#HariIbu2015
#LombaFotoSelfie
#SayangiIbuDanAnak

Lomba Foto Selfie:

 

Link Lomba:
Twitter http://www.twitter.com/kowani1928
Facebook http://www.facebook.com/kowani1928
Facebook http://www.facebook.com/humas.kowani
Instagram http://www.instagram.com/kowani1928

Happy Women : “Sosialisasi Hantaran”

Jakarta, KOWANI — Rabu, 20 April 2016, Pukul 13.00 s.d. 15.30, Bidang Pendidikan, Iptek, Seni, dan Budaya KOWANI menyelenggarakan kembali acara ”Happy Women” dengan tema: ”Sosialisasi Hantaran”, yaitu berupa Demo membuat Souvenir dari kaus kaki dan sarung tangan serta perca lipat tanpa potong, serta handuk dibuat gajah lalu dikemas dalam wadah/keranjang. Kegiatan ini bertempat di Ruang Perpustakaan Kowani, Gedung Nyi Ageng Serang, Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.

imageMenghias kotak kado, tips dan trik memberi perekat pada bungkus kado.

image“Diginiin lho, Bu…”, saling membantu dalam pelatihan membuat ketrampilan.

imageYang duduk di baris belakang harus meninggalkan kursinya dan berdiri ke depan agar dapat melihat peragaan ketrampilan dengan jelas. Seru dan asyik…

imageSerius mengikuti pelatihan membuat souvenir hantaran berbentuk gajah yang dibuat dari handuk, “Bu, gini lho… Ditekuknya harus ke arah sini, nih…”

imageFoto bersama Pengurus Bidang Pendidikan, Iptek, Seni, dan Budaya KOWANI bersama Pelatih dan 50 Peserta dari organisasi anggota Kowani, beserta hasil ketrampilan masing-masing.

imagePenyerahan cenderamata dari Ibu Yati, Ibu Isye, dan Ibu Ritje, kepada KOWANI, yang diterima oleh Kabid. Dik Iptek Senbud Ibu Reni Hawadi.

imageKetua Kowani, Ibu Lia Tono Suratman dan Kabid. Dikipteksenbud Ibu Reni Hawadi, bersama para pengajar ketrampilan pada Pelatihan kali ini: Ibu Yati, Ibu Isye, dan Ibu Ritje.