Berita

  • Home
  • Berita
  • Apa yang Terjadi pada Anak yang Sering Dipukul Orangtua?

Apa yang Terjadi pada Anak yang Sering Dipukul Orangtua?

  • adminkowani
  • 7 September 2016
News Image

Jakarta, KOWANI — Ada seorang ibu yang sering memukuli anak sulungnya yang berusia lima tahun. Suatu hari, ibu tersebut melihat anaknya itu memukuli adiknya yang masih kecil.

Kemudian, ketika ditanya, mengapa dia kasar pada adiknya?

“Aku sedang pura-pura jadi ibu,” jawab sang anak.

Setiap orangtua memiliki gaya pola asuh berbeda-beda dalam membesarkan anak. Anda mungkin merasa bahwa cubitan tidak akan meninggalkan trauma mendalam pada anak. Anda salah.

Segala bentuk kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, akan meninggalkan luka dalam diri Anda, entah terlihat atau tersembunyi dalam hatinya.

Denise Cummins, PhD, Cognitive Scientis dan penulis Good Thinking: Seven Powerful Ideas that Influence the Way We Think, menguraikan tiga dampak buruk pada anak yang sering mendapatkan pukulan dari orangtua:

Mengajarkan hadapi konflik dengan kekerasan

Anda menyebutnya disiplin. Anak Anda melihatnya sebagai solusi. Pasalnya, anak akan menuruti keinginan orangtua ketika mereka menerima pukulan.

Kebiasaan itu akan dia salurkan dan dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sosial.

Anak yang sering dipukul sewaktu kecil, kata Cummins, tidak memiliki kendali diri dalam menghadapi konflik ketika mereka dewasa.

Selain itu, anak melihat orangtua sebagai seseorang dengan tubuh yang lebih besar dari mereka. Jadi, mereka pun bakal berpikir bahwa memukul seseorang yang lebih kecil itu adalah hal yang lazim.

Anak yang tumbuh menjadi penindas atau pelaku bully di sekolah kebanyakan memiliki orangtua yang kasar dan penyiksa di rumah.

Anak menjadi minder dan susah percaya orang lain

Orangtua seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing anak dalam menjalani kehidupan. Sebab, orangtua merupakan orang dewasa yang paling dekat pada anak.

Nah, perilaku kasar orangtua justru membuat anak tidak percaya pada Anda. Kondisi ini pun membuat mereka semakin sulit memercayai orang lain kala mereka dewasa.

Selain itu, anak yang terbiasa disakiti dari kecil, tumbuh dengan minim rasa empati, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Mereka jadi bodoh

Kekerasan tidak sebatas pukulan dan cubitan. Sebab, umpatan dan hinaan juga termasuk dalam kekerasan secara verbal.

Anak yang terbiasa dibilang bodoh, tidak becus, dan malas akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak cemerlang secara akademis. Mereka juga selalu meragukan kemampuan diri sendiri.

Ingat, ucapan orangtua itu adalah doa. Jadi, pastikan selalu mengutarakan kalimat positif pada si kecil sang buah hati Anda.

Edit: Yunan.
Sumber: http://female.kompas.com/read/2016/09/06/070100320/apa.yang.terjadi.pada.anak.yang.sering.dipukul.orangtua.

Create Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *