Pada Musyawarah Kerja 2022 Kowani, Giwo Ingatkan Kembali Peran Strategis Perempuan sebagai Ibu Bangsa

JAKARTA, MENARA62.COM – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menggelar Musyawarah Kerja (Muker) 2022 dengan tema “Melalui Musyawarah Kerja Tahun 2022, Kowani Mengoptimalkan Perannya sebagai Ibu Bangsa untuk Indonesia Maju dan Tangguh”, pada Rabu (27/7/2022). Kegiatan yang berlangsung di Rumah Perjuangan Kowani tersebut dibuka resmi oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Puspayoga. Hadir seluruh pengurus DPP Kowani, Ketua-Ketua Yayasan Kowani, GOW, BKOW dan perwakilan organisasi anggota.

Dalam sambutan pengantarnya, Ketua Umum Kowani Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada perwakilan organisasi wanita yang hadir dalam Muker 2022. “Organisasi wanita di bawah federasi Kowani merupakan asset paling berharga Kowani. Mereka merupakan kekuatan yang nyata yang dimiliki Kowani,” kata Giwo.

Hingga kini sudah 97 organisasi wanita yang bergabung di bawah federasi Kowani dengan jumlah anggota sekitar 87 juta perempuan. Organisasi yang bergabung ke Kowani memiliki latar belakang yang berbeda-beda tetapi memiliki tujuan yang sama yakni mengangkat harkat, derajat dan martabat kaum perempuan Indonesia sesuai dengan cita-cita para founding mothers Kowani.

Bagi Giwo, sinergi dan koordinasi antar organisasi wanita yang berada di bawah federasi Kowani memiliki peran penting dan sangat strategis dalam operasional atau aktivitas organisasi Kowani. Karena itu, pada Muker yang digelar masa pertengahan kepengurusan DPP Kowani periode 2019-2024 tersebut, ia memohon dukungan dan sinergi dari seluruh organisasi anggota, untuk program yang sedang dan akan dilakukan hingga masa kepemimpinan berakhir.

Lebih lanjut Giwo mengatakan bahwa Kowani mengemban amanah sebagai Ibu Bangsa sejak pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia ke-2 di Yogyakarta tahun 1935. Namun hingga kini Giwo merasa masih memiliki hutang moral baik secara pribadi maupun sebagai ketua umum dalam mengemban amanah sebagai Ibu Bangsa tersebut.

“Ya, karena sampai saat ini perempuan Indonesia masih menghadapi banyak persoalan seperti tingginya angka kematian ibu melahirkan, diskriminasi terhadap perempuan, masih banyaknya kasus eksploitasi dan perdagangan perempuan, masih minimnya akses perempuan pedesaan terhadap pembangunan, tingginya angka stunting dan lainnya,” jelas Giwo.

Karena itu dalam kesempatan tersebut Giwo mengajak seluruh organisasi wanita untuk bangkit dan bersemangat melanjutkan program kerja, meski pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Bersinergi dengan pemerintah, organisasi masyarakat, kementerian dan dunia usaha, Kowani akan terus mendukung pemerintah dalam upaya-upaya pemulihan ekonomi pascapandemi. “Data Bank Indonesia menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kurun 2020-2021 mencapai titik terendah dalam sejarah. Saatnya kita bangkit bersama,” ajak Giwo.

Menurut Giwo, Muker kali ini mengingatkan dan menyadarkan bahwa mewujudkan Ibu Bangsa bukanlah pilihan tetapi kewajiban yang mulia demi tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia. Perempuan sebagai Ibu Bangsa telah menempatkan peran dan posisi wanita berada di depan bahkan menjadi pilar dalam berbagai dimensi yang mana mau tidak mau menuntut perempuan terlibat baik secara langsung atau tidak langsung dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat dan menempatkan diri secara tepat dan benar dalam situasi apapun.

Sementara itu, Menteri Bintang Puspayoga dalam sambutannya menyebutkan sebagai federasi organisasi perempuan, Kowani memiliki peran besar dalam memacu pergerakan perempuan Indonesia demi terciptanya kesetaraan gender.

“Kesetaraan gender merupakan syarat terciptanya pembangunan berkelanjutan dan kesejahteran bagi seluruh masyarakat,” kata Menteri Bintang.

Presiden lanjut Bintang telah mengamanahkan 5 isu utama terkait perempuan dan anak hingga 2024 yaitu peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan, peningkatan peran ibu dalam pendidikan dan pengasuhan anak, penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penurunan pekerja anak dan pencegahan perkawinan anak.

Meski berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, ketidaksetaraan gender yang sudah mengakar kuat sejak lama, yang sifatnya sangat komplek dan mullti sektoral, sangat sulit untuk benar-benar dihapuskan. Dibutuhkan ratusan tahun untuk menutup ketidaksetaraan gender secara global. “Meski demikian, ini bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai,” tegas Menteri Bintang.

Karena itu, Menteri Bintang meminta bantuan Kowani sebagai organisasi perempuan yang besar dan strategis, untuk bersama-sama berjuang mencapai persamaan hak dan kesetaraan gender. “Melalui musyawarah kerja ini saya menitipkan permintaan untuk mendukung lima isu prioritas pemerintah dalam hal perempuan dan anak,” tandas Menteri Bintang.

Bagi Menteri Bintang, perempuan adalah advokat dari perempuan itu sendiri, karena perempuan yang paling tahu masalah dan solusi dari persoalan perempuan.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana Muker Heryana Simanjuntak mengatakan Muker yang digelar pada pertengahan kepengurusan DPP Kowani periode 2019-2024 menjadi bagian dari amanah Kongres. Karena itu meski dalam situasi pandemi yang belum berakhir, Kowani tetap melaksanakan Muker untuk mengevaluasi program kerja kepengurusan DPP Kowani sekaligus mengisi jabatan yang kosong dan mengesahkan organisasi anggota Kowani yang baru bergabung. Tercatat ada lima organisasi wanita yang dinilai memenuhi syarat untuk bergabung menjadi anggota Kowani.

Musyawarah Kerja 2022 Kowani tersebut diikuti oleh perwakilan 52 organisasi dari 80 organisasi anggota Kowani yang aktif. Dengan demikian, maka Muker dinilai sah karena sudah mewakili lebih dari 50 + 1 anggota Kowani.

sumber link: https://menara62.com/pada-musyawarah-kerja-2022-kowani…/

Sambut Kunjungan Presiden ICW, Ketum Kowani Paparkan Sejarah dan Program Kerja Kowani

President of International Council of Women (ICW) Martina Marandel mengadakan kunjungan kerja ke Kantor Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Jalan Imam Bonjol, Jakarta pada Minggu (17/7/2022). Kunjungan tersebut menjadi rangkaian dari kegiatan Women 20 (W20) Summit di Danau Toba, tepatnya di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang berlangsung pada 18-20 Juli 2022.

Kunjungan Martina Marandel disambut langsung oleh Ketua Umum Kowani Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo bersama para pengurus DPP Kowani lainnya. Selain berdiskusi terkait W20 Summit, Martina juga melihat langsung proses pembuatan kerajinan kain ecoprint dari BKOW Kota Bogor.

“Kami bangga menerima kunjungan Madam Martina Marandel di mana ini merupakan kunjungan pertama setelah beliau terpilih sebagai Presiden ICW di Paris,” kata Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo dalam sambutannya.

Menurut Giwo, kunjungan Martina ke rumah perjuangan Kowani memiliki nilai yang penting dan strategis mengingat Kowani merupakan organisasi federasi perempuan dengan anggota terbesar dibanding organisasi perempuan dari negara manapun yang menjadi anggota ICW. Hingga saat ini tercatat 102 organisasi perempuan dari berbagai latar belakang yang berbeda telah bergabung di Kowani dengan anggota mencapai lebih dari 87 juta.

Sebagai organisasi federasi, Kowani yang lahir pada 22 Desember 1928 lanjut Giwo terus berjuang untuk meningkatkan derajat dan martabat kaum perempuan di Indonesia. Berbagai program telah dan akan terus dilaksanakan oleh Kowani dalam menjalankan visi dan misinya.

Beberapa kegiatan Kowani antara lain pemberdayaan pelaku ekonomi (UMKM) dari kalangan perempuan. Tidak hanya berupaya mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif, Kowani juga membantu para perempuan pelaku UMKM untuk mengembangkan diri. “Ada pelatihan-pelatihan terkait pemberdayaan ekonomi yang terus digelar oleh Kowani bekerjasama dengan berbagai pihak. Kami juga secara konsisten menggelar Kowani fair sejak tahun 1999 untuk mewadahi para pelaku UMKM perempuan,” tambah Giwo.

Dibidang kesehatan, Kowani juga memiliki berbagai program penting. Salah satu program tersebut adalah bermitra dengan pemerintah berjuang untuk menurunkan angka stunting yang sampai saat ini masih tinggi di Indonesia. Stunting menjadi fokus perhatian Kowani karena persoalan kekurangan gizi ini dapat berpengaruh terhadap mutu dan kualitas SDM generasi muda.

Dibidang hukum Kowani telah mengawal lahirnya UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan akan terus mengadvokasi UU nomor 12 tahun 2022 tersebut. “Kowani sebagai anggota ICW berkomitmen untuk memperjuangan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebagai pusat diskusi global,” tandas Giwo.

Dibidang lain tentu masih cukup banyak, mulai dari bidang pendidikan, politik, hukum, lingkungan dan sebagainya.

Di tempat yang sama, Presiden ICW Martina Marandel menyampaikan kegembiraannya bisa mengenal negara Indonesia terutama para perempuannya yang cantik, aktif dan hangat. “Saya senang bisa mengenal dan bekerjasama dengan Kowani dimana tentu setiap negara memiliki perbedaan kultur, etnik, budaya, agama yang berbeda dan kita harus menghormatinya,” tuturnya.

Ia menyebut semua perempuan di mana pun berada harus tetap solid untuk bekerjasama mengangkat derajat dan martabat perempuan. Sebab sebagai asosiasi yang sangat besar, ICW tentu harus menganyomi negara-negara anggotanya dan membantu mereka keluar dari persoalan terkait perempuan.

Dalam kesempatan tersebut Martina juga berkisah tentang dirinya yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha sejak usianya masih 25 tahun. Dalam perjalanan karirnya, kemudian Martina menjadi owner dari sejumlah perusahaan yang pada akhirnya bisa menyimpulkan pentingnya perempuan memiliki keberdayaan ekonomi.

“Menurut saya hal yang penting kita lakukan sekarang ini adalah bagaimana perempuan memiliki pendidikan dan bisa bekerja untuk menghadapi dunia yang penuh kompetisi. Ini mungkin sulit bagi usia kita, tetapi setidaknya perempuan generasi muda harus berada memiliki bekal untuk berkompetisi,” lanjutnya.

Martina juga berjanji membantu perempuan-perempuan di manapun melalui ICW untuk mengenal dunia digital. “Mungkin pertama yang akan saya lakukan adalah merapihkan website ICW agar kita jauh lebih interaktif,” tutup Martina.

Dalam kesempatan tersebut Martina juga memperoleh cinderamata berupa kain ecoprint hasil kerajinan BKOW Kota Bogor. Selanjutnya, Martina dan sejumlah pegurus DPP Kowani akan terbang ke Sumatera Utara guna mengikuti rangkaian kegiatan Women 20 Summit.

Sumber link: https://menara62.com/sambut-kunjungan-presiden-icw-ketum…/

Percepatan Penurunan Stunting Butuh Dukungan Dana, Kowani Ajak Dunia Usaha Berkolaborasi

JAKARTA (Pos Sore) — Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bersama Pita Putih Indonesia menyelenggarakan Webinar Diskusi Publik Percepatan Penurunan Stunting, Kamis 14 Juli 2022. Diskusi mengangkat tema Dukungan Dunia Usaha Dalam Implementasi Perpres Nomor 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Menghadirkan narasumber anggota DPR Komisi IX Fraksi Golkar Yahya Zaini, anggota DPR RI Komisi IV Luluk Nur Hamidah, Direktur Utama PT Poleko Jaya Agung Andi Adara Vanessa Baramuli Bbio tech., MTIM, dan Assistant Vice President PT Oganon Andreas Daugaard Jorgensen.

Ketua Umum Kowani, DR. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan keprihatinannya dengan masih tingginya angka stunting di Indonesia.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting masih pada persentase 24,4%. Angka ini masih berada di atas standar yang ditetapkan oleh WHO yaitu 20%.

Presiden RI sendiri pada 2024 juga telah menetapkan target penurunan stunting menjadi 14%. Ternyata masih jauh dari target.

“Ini menjadi masalah kesehatan masyarakat. Jika situasi ini dibiarkan, Indonesia akan kehilangan satu generasi produktif,” tegas Giwo.

Giwo menjelaskan, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.

Kowani dan Pita Putih Indonesia — organisasi kemasyarakatan yang peduli pada peningkatan kesehatan ibu hamil, melahirkan, nifas dan kesehatan bayi serta anak, pun bekerja sama untuk percepatan penurunan stunting.

Kerja sama ini tertuang dalam Nota kesepahaman pada Oktober 2021. Namun, kerja sama ini tidak termasuk dalam pendanaan yang tertera dalam Perpres 72 tahun 2021.

Itu sebabnya, diskusi ini menghadirkan anggota DPR dari Komisi IV, VI, IX, dan dunia usaha demi tercapainya komitment para pembuat regulasi dan dunia usaha pada segi pendanaan.

Salah satu pilar pada Strategi Nasional dan Prioritas Percepatan Pencegahan Stunting adalah Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan perilaku. Namun, tentunya bukan hal mudah karena membutuhkan dukungan, waktu dan pendanaan.

“Karena itu, perlu menggerakkan kolaborasi dari dunia usaha, peran dari CSR agar bisa disalurkan untuk mendorong percepatan penurunan stunting,” kata Giwo.

Menurutnya, jika ormas bergerak, tanpa adanya dukungan sinergitas dari sektor non kesehatan di setiap jenjang dan seluruh stakeholder, maka tidak akan berjalan dengan baik.

Kowani pun meminta arahan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengenai Kebijakan pemerintah dalam penggunaan dana percepatan penurunan stunting.

Giwo menyampaikan, Kowani dan Pita putih Indonesia memandang sangat perlu adanya keterlibatan peran dunia usaha dan kemitraan dalam Percepatan penurunan Stunting khususnya dalam Gerakan Ibu Bangsa untuk Percepatan Penurunan Stunting.

Keterlibatan dunia usaha dalam upaya perbaikan gizi sebagai kegiatan yang saling melengkapi dan memaksimalkan antara kapasitas Kowani – Pita Putih Indonesia dengan pelaku dunia usaha dalam menyelesaikan permasalahan gizi.

Menurutnya, permasalahan gizi tidak terlepas dari isu pangan. Dalam konteks ini dunia usaha memainkan peran krusial, mulai dari proses produksi hingga distribusi.

“Karena itu, menjadi alasan penting untuk menggandeng dunia usaha dalam upaya edukasi konsumsi makanan yang tepat melalui gizi seimbang,” jelasnya.

Kowani mengajak pelaku usaha untuk bersama memerangi stunting di Indonesia. Sebagai organisasi perempuan tertua di Indonesia, Kowani telah mengemban amanah sebagai ibu bangsa.

“Kewajiban utama perempuan Indonesia adalah untuk mempersiapkan penerus masa depan bangsa. Kita harus menyiapkan generasi yang kreatif, inovatif, unggul, sehat jasmani dan rohani serta berkepribadian bangsa kuat dan nasionalis,” tegasnya.

Dalam upaya mempersiapkan generasi bangsa yang unggul dan mampu mengikuti perkembangan dunia, Kowani bertanggung jawab memastikan wanita Indonesia mampu meningkatkan kesehatan secara berkelanjutan sejak janin, balita hingga remaja.

SUMBER LINK: https://possore.com/percepatan-penurunan-stunting-butuh…/

BACA JUGA: https://rri.co.id/…/kowani-ppi-ajak-pelaku-usaha…

Webinar Memperingati Hari Insinyur Perempuan Sedunia ke-6

Bidang Pendidikan, Iptek, Seni dan Budaya Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bekerja sama dengan Women in Nuclear (WiN) Indonesia dan Persatuan Istri Insinyur Indonesia (PIII) menyelenggarakan Webinar Memperingati Hari Insinyur Perempuan Sedunia ke-6, pada hari Selasa, tanggal 12 Juli 2022 melalui Zoom Meeting.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M. Pd., tersebut juga dihadiri Deputi Bidang Kesetaraan Gender Dra. Leny Nurhayanti Rosalin, M.Sc mewakili Menteri PPPA RI. sebagai Keynote Speaker.

Sementara itu di sebagai pengantar Webinar Ir. Tri Murni Soedyartomo, MBA., selaku Presiden Women In Nuclear Indonesia

dan Ir. Nia Wardini Said Didu selaku Ketua Umum Persatuan Istri Insinyur Indonesia memberikan sambutan di awal acara.

Adapun materi dipaparkan oleh para Narasumber antara lain:

1. Gabrielle Voigt, Presiden Women In Nuclear Global, Topik : Keterkaitan Antara Engineering Perempuan Dengan Pengarusutamaan Gender.

2. Sentagi Sesotya Utami, ST, M. Sc., Ph. D. GP. Topik: Tantangan Engineer Wanita Dalam Mengembangkan Jejaring Profesional.

3. Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. Topik : Indonesia Memerlukan Insinyur Perempuan Untuk Mempercepat Pengembangan Teknologi.

***