Kowani akan Terus Berjuang Kembalikan Makna Hari Ibu

JAKARTA, MENARA62.COM – Peringatan Hari Ibu Ke-92 Tahun 2020 dijadikan momen bagi Kongres Wanita Indonesia (Kowani) untuk mengembalikan makna Hari Ibu sesuai dengan sejarah pergerakan perempuan Indonesia. Yakni sejarah bagaimana perempuan Indonesia yang kemudian berkumpul dalam federasi organisasi Kowani, ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Sekarang banyak orang memaknai Hari Ibu sebagai mother’s day. Padahal ini memiliki makna yang berbeda,” kata Ketua Umum Kowani Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo M.Pd pada keterangan pers Peringatan Hari Ibu ke-92 yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (22/12/2020).

Menurutnya sejarah lahirnya Hari Ibu adalah bagaimana zaman dahulu kaum perempuan bersuara lantang untuk memperjuangan nasib perempuan. Mulai dari rendahnya pendidikan, tingginya angka buta huruf, perkawinan yang menindas, penghapusan perkawinan usia anak, dan lainnya. Mereka menggalang persatuan untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang dihadapi kaum perempuan Indonesia. Dan perjuangan kaum perempuan tersebut terus berlangsung hingga kini tentunya dengan problema yang berbeda.

Heryana Hutabarat

Tetapi sayangnya, banyak masyarakat yang memaknai Hari Ibu sebagai hari dimana seorang anak mengucapkan terimakasih kepada ibu, menyampaikan rasa sayang kepada ibu dengan setangkai bunga atau hadiah lain.

“Kasih sayang, hormat dan tentu terimakasih kepada ibu, tidak cukup kita sampaikan dalam sehari,” lanjut Giwo.

Menurut Giwo, Hari Ibu di Indonesia memiliki perjalanan panjang, dimulai dari Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tanggal 22 Desember 1928 yang melahirkan organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perkumpuan Perempoean Indonesia (PPPI). Tujuannya adalah meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju, disamping tugasnya bahu membahu dengan kaum pria untuk membela negara dan bangsa. Pada saat itu sudah kesetaraan, karena perempuan turut memanggul senjata.

Perjuangan berlanjut pada diadakannya Kongres Perempoean Indonesia ke II di Jakarta.Pada tahun 1935, pada Kongres tersebut disamping berhasil membentuk badan kongres perempoean Indonesia, juga menetapkan fungsi utama perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa yang berkewajiban menumbuhkan generasi baru yang lebih sadar akan kebangsaannya.

Dan kemudian  pada tahun 1938, Kongres Perempoean Indonesia ke III dilaksanakan di Bandung, dan dalam kongres tersebut lahir usulan agar peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember 1928 dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dan dijadikan sebagai Hari Ibu. Tapi  usulan  tersebut baru dikukuhkan 21 tahun kemudian melalui Keputusan presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan Hari Ibu tanggal 22 Desember sebagai Hari Nasional yang bukan Hari Libur.

“Hari  tersebut merupakan pengakuan dan penghargaan atas jasa-jasa perempuan bukan hanya sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu, isteri maupun warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai pejuang, dalam merebut, menegakkan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional,” lanjut Giwo.

Sampai sekarang semangat Perjuangan tersebut masih dilaksanakan dengan semboyan “Merdeka Melaksanakan Dharma” yang mengandung arti bahwa persamaan hak, kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki merupakan kemitrasejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia. Perempuan bukan hanya penerima dan penikmat kemerdekaan tetapi memiliki peran penting dan peran yang diperhitungkan

Pergerakan yang dilakukan perempuan Indonesia lanjut Giwo telah menghasilkan kesempatan yang sama dengan pria sehingga mewujudkan kemitra sejajaran untuk pembangunan bangsa tidak meninggalkan budaya Indonesia. Yakni bahwa perempuan sebagai ibu berperan menjadi guru pertama dan utama serta garda utama sebuah keluarga, perempuan menjadi kunci ketahanan untuk Indonesia maju melalui perannya dalam keluarga, dan perempuan menjadi penentu keberhasilan bangsa.

Giwo ingin implementasi dari Hari Ibu saat ini adalah perempuan tetap pada peran dan kodratnya terus mendukung mewujudkan pribadi perempuan Indonesia yang maju dan mandiri, berbudi pekerti luhur dalam mengisi kemerdekaan, menolong perempuan-perempuan yang tidak mampu, meningkatkan pendidikan perempuan melalui penguatan aksara budaya tulis, kecakapan hidup kewirausahaan perempuan, penghapusan perdagangan perempuan, penghapusan perkawinan anak dan masih banyak lagi masalah perempuan yang ada di masyarakat.

Dalam rangka Hari Ibu Ke-92 Tahun 2020 Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menyelenggarakan kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan Gebyar Kebudayaan Kowani Fair Online. Kegiatan tersebut dimulai tanggal 23 Nopember 2020 – 23 Desember 2020 dengan kegiatan antara lain membantu membangkitkan ekonomi UMKM khususnya binaan Kowani dengan menyelenggarakan Kowani Fair Online kerjasama dengan TokoPedia yang diikuti oleh UMKM termasuk UMKM umum,  Gerakan Pakai Masker yaitu mengkampanyekan protokol kesehatan cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker untuk mengurangi laju pernularan Covid-19 di Indonesia.

Uli Silalahi

Lalu Kowani juga menyelengarakan beberapa Webinar dengan beberapa topik yang membangkitkan semangat kesatuan dan persatuan bangsa serta menyelenggarakan berbagai Workshop yang membangkitkan semangat cinta dan bangga produk buatan Indonesia.

Kegiatan lain diantaranya menyelenggarakan kegiatan Diskusi Publik Penguatan Hak-Hak Perempuan penyandang disabilitas dan donasi alat bantu dengar, mendorong Pemerintah/Pemda, Ormas dan Elemen masyarakat lainnya untuk peduli kepada disabilitas, mengkampanyekan pentingnya minum jamu untuk menjaga kesehatan dan melestarikan budaya Indonesia.

Kowani bahkan akan mengajukan permohonan kepada Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Sekretaris Negara agar Pemerintah Indonesia menetapkan Hari Jamu Indonesia untuk memberi peluang Jamu bisa menjadi Warisan Budaya yang diakui oleh The United Nations Educational, Scientific and Culture Organization (UNESCO).

sumber link: https://menara62.com/kowani-akan-terus-berjuang-kembalikan-makna-hari-ibu/?fbclid=IwAR2-jIe6ZwS75nAbCyEOoSbaUPGva9l4u26ieOdLPefsB18SG13XsBQVmF0

Baca juga: http://possore.com/2020/12/22/giwo-rubianto-makna-hari-ibu-momentum-kebangkitan-perempuan-indonesia-bukan-mothers-day/

Youtube: https://youtu.be/VtLUdpuY1hQ

Facebook: https://www.facebook.com/photo?fbid=3473162546135938&set=pcb.3473162779469248

Kerap Mendapat Diskriminasi, Masyarakat Indonesia Diajak Lebih Peduli pada Penyandang Disabilitas

JAKARTA (Pos sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, menyampaikan, penyandang disibilitas kerap mendapat stigma dan diskriminasi. Mereka kerap dianggap tidak mampu beraktivitas seperti halnya non disabilitas.

Giwo mengungkapkan, masih banyak para kaum difabel yang belum mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Memang ada yang berhasil menyelesaikan pendidikannya bahkan sampai jenjang yang tertinggi. Namun, mereka masih harus berhadapan dengan praktik yang menghambat mereka mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai.

“Mengubah persepsi ini tentu membutuhkan proses yang tidak mudah dan kita semua harus bersama-sama melawan stigma tersebut,” kata Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo, seraya menambahkan perlunya melakukan sosialisasi Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

Ia menyampaikan hal itu dalam Peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Ibu 2020, di Jakarta, Senin (21/12/2020). Kegiatan yang dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga, ini diisi dengan pentas seni, donasi alat banti dengar, GPM-Kowani Award, serta dialog publik dan peluncuran buku “Penguatan Hak-hak Penyandang Disabilitas”.

“PENYANDANG DIFABEL MASIH SERING MENDAPATKAN STIGMA NEGATIF ATAU PERLAKUKAN DISKRIMINATIF DARI MASYARAKAT. PADAHAL BANYAK DIFABEL YANG MEMILIKI KEMAMPUAN TAK KALAH DENGAN MASYARAKAT YANG TIDAK MEMILIKI KEKURANGAN FISIK,” TEGASNYA.

Karenanya, Hari Disabilitas Internasional atau HDI 2020 yang diperingati setiap 3 Desember harus menjadi momentum untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap difabel yang masih kerap mengalami diskriminasi. Sesuai dengan tema HDI 2020 ‘Not All Disabilities Are Visible’.

“Kowani mengajak seluruh masyarakat lebih peka terhadap insan berkebutuhan khusus. Karena bagaimanapun setiap penyandang disabilitas memiliki keterampilan dan kreativitas yang beragam untuk dapat dimaksimalkan potensinya,” tuturnya.

Giwo menyampaikan Peringatan Hari Ibu juga menjadi momentum bagi perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa untuk ikut meningkatkan potensi yang dimiliki kaum disabilitas, yang kerap mengalami diskriminasi berlapis.

Kowani melalui bidang kerja Sosial, Kesehatan, dan Kesejahteraan Keluarga, Hukum dan Hak Asasi Manusia, mendorong terbentuknya keluarga tangguh dan untuk senantiasa menjaga dan melindungi hak-hak perempuan dan anak penyandang disabilitas. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pemyandang disabilitas.

Sementara itu, Menteri Bintang mengakui banyak kendala yang dihadapi kaum disabilitas seperti akses kesehatan, pendidikan hingga transportasi. Padahal, berdasarkan data jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 37,58 juta jiwa.

“Sebanyak 53,37 persen penyandang dibilitas perempuan, dan 9,77 persen adalah penyandang dibilitas anak-anak. Perempuan dan anak sudah dikategorikan kelompok rentan. Dengan begitu, jika mereka adalah penyandang dibilitas, mereka rentan mengalami diskrikiminasi ganda,” katanya.

Di sisi lain, ungkap Bintang, Covid-19 juga memberikan dampak yang luar biasa bagi penyandang disabilitas. Berdasarkan hasil kajian, sebanyak 80,9 persen perempuan dan anak, termasuk penyandang disabilitas, telah terdampak serius pada sosial, ekonomi, dan kesehatan.

“Karenanya, mari bersama-sama bergerak dan memperkuat kesetaraan hak dan perlindungan HAM penyandang disabilitas yang semakin rentan akibat kondisi pandemi Covid-19,” katanya. (tety)

sumber link: http://possore.com/2020/12/21/kerap-mendapat-diskriminasi-masyarakat-indonesia-diajak-lebih-peduli-pada-penyandang-disabilitas/

baca juga: http://gohappylive.com/kowani-dorong-sosialisasi-uu-no-8-tahun-2016-untuk-perjuangkan-hak-penyandang-disabilitas/

Facebook: https://www.facebook.com/photo?fbid=3471504442968415&set=pcb.3471521152966744

Giwo Rubianto: Peringatan Hari Ibu Momentum Membangun Bangsa

Dialog bersama Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, dalam acara Buletin Pagi TVRI.

Disiarkan secara langsung di TVRI, hari Senin tanggal 21 Desember 2020, pkl. 06.00-07.00 WIB.

MELIHAT SEJARAH KONGRES PEREMPUAN INDONESIA DAN PENETAPANNYA, MAKA HARI IBU YANG DIPERINGATI SETIAP 22 DESEMBER SEJATINYA ADALAH HARI PERINGATAN PERGERAKAN PEREMPUAN INDONESIA.JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd menjadi narasumber segmen dialog di saluran TVRI, Senin (21/12/2020). Dialog mengangkat topik peringatan Hari Ibu ke-92, yang Selasa (22/12/2020) diperingati Indonesia.Dialog yang dipandu oleh Nurul Jamilah dan Yoga Pratama, pembaca acara berita “Klik Indonesia Pagi” ini berlangsung selama 15 menit di segmen terakhir “Indonesia Pagi”.Dalam dialognya, Giwo Rubianto menyampaikan Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember di Indonesia bukanlah seperti Mother’s Day yang dirayakan di negara-negara lain. Masyarakat kita banyak yang salah mengartikannya.

Dikatakan, Hari Ibu berasal dari Kongres Perempuan Indonesia I yang diadakan pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Hanya selang dua bulan dari deklarasi Sumpah Pemuda oleh para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928.

Jadi, Kongres Perempuan Indonesia yang pertama ini sebagai kelanjutan dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di Jakarta, 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda, yang hingga kini selalu terngiang di masyarakat Indonesia.

Pada saat itu, para perempuan pejuang juga melakukan aksi demonstrasi tidur di bantalan rel kereta api sehingga terjadilah negoisasi dengan Belanda dan diperbolehkan menaiki kereta menuju Yogyakarta.Ada tujuh organisasi perempuan yang berinisiatif mengadakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama itu. Mereka adalah perempuan pejuang Indonesia, yaitu Wanito Utomo, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond, Wanita Taman Siswa, Jong Java Meisjeskring, dan Wanito Katholik.

Salah satu keputusan dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama itu adalah membentuk satu organisasi federasi mandiri dengan nama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI).PPPI ini bertujuan meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju, juga bahu-membahu dengan laki-laki memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Pergerakan tidak hanya berhenti pada saat itu saja. Sejak 22 Desember 1928, kongres demi kongres diselenggarakan guna membicarakan masalah pendidikan, sosial budaya, ekonomi, tenaga kerja dan politik.

Pada 1935 di Jakarta, diadakan Kongres Perempuan Indonesia II. Salah satu keputusan pentingnya adalah kewajiban utama perempuan Indonesia menjadi ibu bangsa yang berusaha menumbuhkan generasi baru yang lebih sadar akan kebangsaan.

Pada tahun yang sama PPII berganti nama menjadi Kongres Perempoean Indonesia dan pada 1946 menjadi Kongres Wanita Indonesia yang disingkat KOWANI, seperti yang dikenal selama ini.

Sementara Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember hasil keputusan Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung pada 1938, merujuk pada tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I.

“Keputusan itu kemudian dikukuhkan pemerintah Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur pada 16 Desember 1959,” kata Giwo.

Melihat sejarah Kongres Perempuan Indonesia dan penetapannya, maka Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember sejatinya adalah hari peringatan pergerakan perempuan Indonesia.

Karenanya, Peringatan Hari Ibu ke-92 adalah momentum perempuan Indonesia membangun Indonesia dengan tugasnya sebagai Ibu bangsa yang mengemban tanggung jawab mulia, inovatif, dan memiliki kepribadian bangsa nasionalisme, serta sehat dan jasmani.Hari Ibu juga menjadi momentum pemantik semangat tidak hanya bagi para perempuan, tapi juga masyarakat khususnya generasi muda untuk bergerak bersama secara nyata meningkatkan kualitas hidup perempuan.

“Kita secara bersama-sama memberikan solusi dalam menghadapi berbagai persoalan terkait perempuan khususnya dalam menghadapi masa sulit pada situasi pandemi Covid-19 saat ini,” ujarnya.

Kondisi ini juga menjadi tantangan tersediri bagi perempuan Indonesia terlebih sebentar lagi Indonesia memasuki era industri 5.0. Yang diharapkam tantangan ini sebisa mungkin menjadi peluang bagi perempuan Indonesia dalam mengembangkan potensi dirinya.

Karenanya, kita harus berkolaborasi dan bersinergi mengemban amanat para founding mothers untuk sebaik-baiknya menjadi ibu bangsa sejati. Jangan melupakan sejarah, kita harus menjalankan amanah para perempuan terdahulu yang memberikan pengorbanan luar biasa bukan hanya materi tapi juga jiwa dan raga.

“Peringatan Hari Ibu lebih dari sekedar mother’s day. Ini adalah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan perempuan dalam berbagai sektor pembangunan untuk Indonesia maju yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia,” tandasnya.

Hari Ibu merupakan momen peringatan pergerakan perempuan Indonesia yang pada saat itu saling mengukuhkan semangat dan tekad bersama dalam mendorong kemerdekaan Indonesia.Giwo pun mengajak seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda untuk mengingat kembali arti dan makna Hari Ibu karena memiliki makna yang berbeda dengan Mother’s Day yang diperingati negara-negara barat. Esensinya juga berbeda. Karenanya, pergeseran makna PHI ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Peringatahan Hari Ibu harus dijadikan momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan, serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.Momentum Peringatan Hari Ibu bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam pemenuhan hak perempuan dan anak, serta untuk memajukan perempuan Indonesia di masa pandemi Covid-19 di mana banyak perempuan terpuruk, menjadi korban kekerasan, bahkan harus memikul beban ganda,” terang Giwo.

Karenanya, sangat penting bagi generasi milenial dan masyarakat agar membaca sejarah hari ibu. Ada makna mendalam yang lebih dari sekedar ucapan “Selamat Hari Ibu”. (tety)

sumber link: http://possore.com/2020/12/21/giwo-rubianto-peringatan-hari-ibu-momentum-membangun-bangsa/

Facebook: https://www.facebook.com/photo?fbid=3470278406424352&set=pcb.3470280146424178

Peran Perempuan Lintas Generasi, Membangun Bangsa untuk Indonesia Maju

TONGGAK PERJUANGAN PEREMPUAN DITANDAI DENGAN PERISTIWA BERSATUNYA KAUM PEREMPUAN DARI 97 ORGANISASI DALAM KONGRES PEREMPUAN INDONESIA I PADA 22 DESEMBER 1928 DI YOGYAKARTA. PERTEMUAN TERSEBUT BERTUJUAN UNTUK MENYUARAKAN HAK DAN CITA-CITA PEREMPUAN INDONESIA.

JAKARTA (Pos Sore) — Perempuan memiliki peran penting dalam menentukan arah kehidupan bangsa, baik di masa lampau saat berjuang merebut kemerdekaan, maupun di masa kini dalam mengisi kemerdekaan serta pembangunan bangsa.

Perempuan Indonesia telah menunjukan kontribusi nyatanya dari generasi ke generasi untuk memajukan bangsa.“Perempuan berperan besar dalam menentukan arah kehidupan bangsa, hal ini terbukti di lintas generasi. Dengan perannya masing-masing, mereka memaksimalkan dan membagikan potensi terbaiknya kepada keluarga, anak-anak, maupun masyarakat di sekitarnya untuk berkontribusi memajukan bangsa ini,” ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga.

Ia mengemukakan hal itu saat membuka Hari Ibu Webinar 3 Generasi sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-92 tahun 2020, Jumat (18/12/2020). Webinar ini hasil kerjasama antara Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

Menteri Bintang menyampaikan tonggak perjuangan perempuan ditandai dengan peristiwa bersatunya kaum perempuan dari 97 organisasi dalam Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyuarakan hak dan cita-cita perempuan Indonesia.Peristiwa sejarah ini mendasari Presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu sebagai Hari Nasional pada 1959, yang juga bertepatan dengan Kongres Perempuan III yang berhasil membentuk gabungan seluruh organisasi perempuan di Indonesia.

Sehingga jelas Peringatan Hari Ibu bukanlah Mother’s Day melainkan wujud kongkrit peran perempuan dalam merebut kemerdekaan.Peran penting para perempuan yang tergabung dalam wadah organisasi menjadi bagian dari pergerakan nasional untuk mendapatkan kehidupan lebih layak bagi kaum dan bangsanya, serta lepas dari belenggu penjajahan. Karena perjalanan panjang dalam mempertahankan kemerdekaan tersebut, bukanlah pekerjaan mudah.

Perempuan ikut berperan nyata, mulai dari menjadi tentara perempuan pada agresi militer di awal kemerdekan, bekerja sebagai tenaga medis, membuka dapur umum, menjadi penulis dan politikus untuk menyalurkan pendapatnya, hingga menjadi ibu rumah tangga yang menjaga keluarganya. Perjuangan mereka pun masih terasa nyata hingga saat ini.

Peran perempuan tidak terhenti begitu saja. Mereka bahkan tetap menjadi sentral di berbagai sektor kehidupan. Peran perempuan tetap lestari dari generasi ke generasi bagi bangsa ini. Dalam sektor ekonomi dan ketenagakerjaan misalnya, perempuan telah menyumbangkan pendapatan cukup besar bagi negara, baik melalui sektor formal dan informal, di antaranya sebagai pekerja migran, pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), bahkan perempuan tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan di masa pandemi Covid-19.

“Saya berpesan kepada para Ibu, mari kita lakukan upaya terbaik dalam menjaga keluarga dan lingkungan dari Covid-19. Inilah saatnya kita sebagai perempuan generasi penerus, ikut serta berjuang untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis pandemi. Mari bergandengan tangan, satukan kekuatan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi bangsa Indonesia. Selamat Hari Ibu. Perempuan berdaya, anak terlindungi, Indonesia maju,” terang Menteri Bintang.

Ketua Umum KOWANI, Giwo Rubiyanto Wiyogo menekankan pentingnya meluruskan makna bahwa Hari Ibu bukanlah mother’s day kepada para generasi muda. Peringatan Hari Ibu bertujuan untuk memaknai perjuangan pergerakkan perempuan Indonesia dalam melepaskan belenggu dari penjajahan dan meraih kemerdekaan.Menurutnya, peringatan Hari Ibu ke-92 adalah momentum perempuan Indonesia menjadi Ibu bangsa yang mengemban tanggung jawab mulia, inovatif, dan memiliki kepribadian bangsa nasionalisme, serta sehat dan jasmani.

“Mari bersama memaknai momentum ini dengan mengimplementasikan hasil perjuangan ibu bangsa di masa lalu untuk saling mengerti, menghargai, dan menciptakan keselarasan di antara generasi dengan generasi berikutnya, serta mengiatkan peran penting perempuan tidak hanya dalam menjalankan kodratnya, tapi juga berkontribusi langsung dalam pembangunan demi memajukan bangsa,” terang Giwo.Giwo melanjutkan, semua pihak harus berkolaborasi dan bersinergi mengemban amanat para founding mothers untuk sebaik-baiknya menjadi ibu bangsa sejati. “Jangan melupakan sejarah, kita harus menjalankan amanah para perempuan terdahulu yang memberikan pengorbanan luar biasa bukan hanya materi tapi juga jiwa dan raga,” tegas Giwo.

Ia menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan generasi muda melalui sosialisasi dan edukasi terkait makna sebenarnya dari Peringatan Hari Ibu sehingga genetasi milenial bisa memaknai Hari Ibu secara utuh.Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga Bidang Kreativitas dan Inovasi, Alia Laksono sebagai perwakilan dari generasi milenial menuturkan bahwa makna Peringatan Hari Ibu merupakan perayaan perjuangan perempuan yang identik dengan kapasitas kebebasan perempuan untuk memilih jalannya, dalam mengisi pembangunan serta memberi dampak positif bagi lingkungan dan bangsa.

Puteri Dewan Pertimbangan Presiden Agung Laksono ini menambahkan peringatan Hari Ibu adalah untuk memaknai perjuangan kaum perempuan Indonesia. Bukan peringatan “mother’s day” karena makna ibu di sini bukan hanya ditujukan untuk perempuan yang menyandang status ibu, tetapi perempuan yang belum menikah dan perempuan yang belum atau tidak memiliki anak.

“Peringatan Hari Ibu momentum untuk mengenang semangat para perempuan luar biasa yang turut berjuang menentang penjajah, khususnya dalam memperjuangkan nasib perempuan dalam mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan menyuarakan pendapat di hadapan publik,” tuturnya.

Tokoh perempuan Sjamsiah Ahmad, yang menjadi narasumber webinar mengungkapkan pentingnya peran serta generasi muda untuk memahami dan melanjutkan pencapaian tujuan pergerakan perjuangan perempuan di masa lampu, dengan memperhatikan aspek positif maupun negatif dari laju globalisasi. Hal ini bertujuan untuk membangun dan memelihara bangsa ini melalui kemitraan yang setara, adil dan tulus dengan kaum laki-laki.Dalam pemaparannya, Sjamsiah Ahmad mengatakan perjuangan perempuan Indonesia sudah dimulai sejak akhir abad XVI di Aceh, abad XVIII di Maluku, di Jawa Barat, dan seterusnya.

“Saya yakin generasi penerus sangat paham berbagai perangkat hukum tentang kemitraan yang setara antara perempuan dan laki-laki, tetapi saya yakin mereka tidak cukup memahami sejarah perjuangan ibu-ibu kita sendiri,” katanya.Ia lantas merujuk pada perjuangan Laksamana Malahayati yang dikenal dengan nama Keumalahayati dari Aceh, Martha Christina Tiahahu dari Maluku, dan Dewi Sartika dari Jawa Barat.

Sjamsiah mengatakan perempuan Indonesia juga banyak berperan setelah kemerdekaan dan Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bersama perempuan-perempuan sedunia, perempuan Indonesia banyak mempengaruhi organisasi bangsa-bangsa tersebut sehingga sejak awal sudah memiliki Komisi Kedudukan Perempuan (CSW).

“Perlu dicatat, sejak awal kemerdekaan ibu-ibu kita telah turut menghadiri sidang-sidang CSW, yang selanjutnya menjadi badan dunia yang secara khusus memperhatikan kedudukan wanita dalam keluarga, masyarakat, negara, dan organisasi-organisasi antarnegara di dunia,” tuturnya. (Tety)

sumber link: http://possore.com/2020/12/19/peran-perempuan-lintas-generasi-membangun-bangsa-untuk-indonesia-maju/

baca juga: http://gohappylive.com/webinar-tiga-generasi-mentri-pppa-bintang-puspayoga-perempuan-berperan-penting-mencegah-dan-menangani-penyebaran-covid-19-dalam-klaster-keluarga/

Youtube: https://youtu.be/5_Zp8pqK3TU

Facebook: https://www.facebook.com/photo?fbid=3463784063740453&set=pcb.3463798443739015