Menteri Sosial Siap Mendukung Launching Pusat Rehabilitasi Kowani

Jakarta (31-1-2020), Kongres Wanita Indonesia (Kowani) melaksanakan audiensi kepada Menteri Sosial RI, Bapak Juliari P Batubara di Kantor Kementerian Sosial, Jl. Salemba Raya No. 28, Jakarta Pusat.

Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd menyampaikan bahwa kunjungan Kowani ke Kementerian Sosial kali ini merupakan kunjungan pertama Dewan Pimpinan Kowani masa bakti 2019-2024 yang baru terpilih pada Kongres 2019 bulan Desember lalu.

Kunjungan tersebut selain dalam rangka melanjutkan kerjasama antara Kowani dengan Kementerian Sosial yang selama ini telah berjalan khususnya dalam Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga yaitu pemberian sumbangan pangan untuk masyarakat kurang mampu melalui organisasi anggota Kowani juga dalam rangka berdiskusi tentang Rencana Launching Pusat Rehabilitasi Kowani.

Disamping itu Ketua Umum Kowani juga mengharap bantuan penyelesaian  akan kepemilikan Yayasan-Yayasan Kowani baik yang berada di Jogjakarta maupun di Jakarta. Yayasan-yayasan milik Kowani yang berbadan hukum untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam rangka menun­jang keberhasilan program Kowani antara lain Yayasan Seri Derma Kowani yang berdiri pada tahun 1929 beralamat di Jl. Kusuma Negara No.159 Jogjakarta, Yayasan Hari Ibu yang berdiri pada tahun 1953 beralamat di Jl. Laksda Adisucipto No.86-88 Jogjakarta, Yayasan Kesejahteraan Anak dan Remaja yang berdiri pada tahun 1953 beralamat di Jl. Suwiryo No.16 Menteng Jakarta Pusat, Yayasan Bina Daya Wanita yang berdiri pada tahun 2007 beralamat di Jl. Hadiah No.14-16 Jelambar Jakarta Barat dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Masalah Keluarga yang berdiri pada tahun 1972 beralamat di Jl. Imam Bonjol No.58 Menteng Jakarta Pusat.

Menteri Sosial, Bapak Juliari menyambut baik dan akan membantu merealisasikan rencana Launching Pusat Rehabilitasi Kowani yang salah satu layanannya adalah menjadi IPWL Rehabilitasi Sosial Anak Korban Narkoba tersebut.

Sejumlah Dewan Pimpinan yang mendampingi Ketua Umum Kowani pada kunjungan ke Kementerian Sosial tersebut antara lain Ketua-Ketua Kowani yaitu Dr.Susianah Affandy, M.Si, Ibu Ery Simanjuntak, S.Sos, dan Dr. Marlinda Irwanti, Wakil Sekjen Kowani Ibu Chamsiar AR, SE, Ketua Bidang Soskeskel Kowani Dr. Khalilah, M.Pd, Ketua Bidang Pengembangan Lembaga Kowani Ibu Jeanne T. Poegoeh dan Ketua Bidang Humas Kowani Ibu Joice Yasmin Ansory.

Audiensi KOWANI ke Menteri Sosial RI.

Ketua Umum KOWANI Ibu Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. bersama Dewan Pimpinan KOWANI diterima Menteri Sosial RI Bapak Juliari Pieter Batubara beserta jajarannya di Kemensos RI pada hari Jumat 31 Januari 2020.

Pertemuan diawali dengan sapaan hangat dari Mensos RI yang mengatakan bahwa “jika untuk Ibu-Ibu kita utamakan, Saya waktu kuliah di Luar Negeri jika ditelp Ibu pasti langsung saya angkat, artinya Ibu-Ibu itu penting”.

Ketum KOWANI memperkenalkan Dewan Pimpinan yang hadir yaitu Para Ketua Koordinator Prof. Dr. Masyitoh, Dr. Marlinda, Susianah Affandy, M.Si, Ibu Ery Simanjuntak, Wakil Sekjen yang membidangi Soskeskel Ibu Chamsiar, Ketua Bidang Sosial, Kesehatan, dan Kesejahteraan Keluarga Dr. Khalilah,M.Pd, Ketua Bidang Pengembangan Lembaga, Ibu Jeanne T. Poegoeh, dan Ketua Bidang Humas Ibu Joice Yasmin Ansory.

Setelah memperkenalkan pengurus KOWANI disampaikan juga hasil-hasil Kongres KOWANI dan Program-Program Soskeskel yang telah  bekerjasama dengan Kemensos serta perlunya memperbaharui MOU antara KOWANI dan Kemensos RI. Mensos RI menyampaikan kepada jajarannya yang hadir agar dapat segera memperbaharui MOU dan perlunya memberikan program yang besar kepada KOWANI tidak hanya bantuan-bantuan sosial, misalnya IPWL (Instansi Penerima Wajib Lapor) yang nantinya bisa diresmikan bersama, atau mengawal Pendampingan PKH dan lain-lain.

Rapat Perdana Bidang Soskeskel Kowani Masa Bakti 2019-2024

Rapat Perdana Bidang Sosial, Kesehatan, dan Kesejahteraan Keluarga KOWANI dihadiri oleh Ketua Umum KOWANI Ibu Dr. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd.

Jumat 31 Januari 2020 Alhamdulilah Rapat Perdana Bidang Soskeskel KOWANI mendapatkan pengayaan dan arahan dari Ketua Umum KOWANI Ibu Dr. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, Tim Ahli KOWANI Ibu Lucy Widasari yang juga Staf Ahli Wapres RI dengan tema Peran Organisasi Masyarakat Dalam Pencegahan Stunting dan dari Ketua Koordinator Ibu Susianah Affandy tentang struktur dan tupoksi KOWANI.

Dalam Rapat ini, Ibu Dr. Khalilah, M.Pd sebagai Ketua Bidang Soskeskel KOWANI telah menunjuk dan disepakati bersama struktur bidang Soskeskel sebagai berikut: Wakil Ketua Bidang Sosial: Dra. Rahmayulis Saleh, MM dari IKWI, Wakil Ketua Bidang Kesehatan: drg. Rini Rahmadhani dari AMPI, Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan Masyarakat Dra.Hj. Media Ekawati MM dari Guppi, Sekretaris: Sufiani Zulkipli dari Wanita Sufiah dan Bendahara: Leny Tri Redjeki dari Perwanas.

Semoga dengan sudah terbentuknya struktur pengurus bidang Soskeskel ini, kami dapat bisa saling sinergis, dilancarkan segala urusan, amanah, selalu sehat, tambah manfaat, dan berkahnya, Amin…

Kowani Ajak Masyarakat Ciptakan Kawasan Tanpa Rokok

Ketua Bidang Sosial, Kesehatan, dan Kesejahteraan Keluarga Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Khalilah, M.Pd.  menghadiri Pertemuan Advokasi Lintas Kementerian dan Lembaga tentang KTR (Kawasan Tanpa Rokok) di Hotel Manhattan 30 Januari 2020.

Kegiatan tersebut membahas 5 Fakta dan Dampak Rokok di Indonesia yaitu antara lain Tembakau faktor risiko kematian dan disabilitas (Rank 1 Laki-Laki dan Rank 7 Perempuan (IHME, 2017); Perokok tertinggi adalah orang-orang Miskin (27.3%) VS orang kaya (19,5) (riskesdes 2013); Konsumsi rokok RT adalah pengeluaran terbesar RT ( 2,6 pengeluaran telur dan susu, 7.6 daging dan 3.6 kesehatan)(BPS 2018); Kejadian anak pendek (stunting) 5.5% lebih tinggi pada anak yg orang tuanya perokok (PKJS UI 2018) dan Economic Lost ( 378.75 T) > Cigarette Excise (103.03 T) (Dr.Suwanda cosen economic costs of tobacco).

Selain itu, prevalensi merokok usia 10-18 meningkat dari 7.3% 2013 menjadi 9.% 2018 dan Pemerintah sulit banget mencapai target penurunannya.

Ketua Bidang Soskeskel Kowani mengajak masyarakat “Mari kita mulai dari diri kita sendiri, orang yang terdekat kita, keluarga kita yang merokok tolong jangan merokok atau kurangi rokoknya karena perokok pasif atau kita yang tidak merokok, menanggung akibatnya juga, sebab asap rokoknya bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.

“Yuk kita terapkan dilingkungan kita, di rumah, di kantor, di organisasi kita, dan di lingkungan kita agar menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), seperti Kabupaten Bogor yang keren banget berusaha menjaga kesehatan masyarakatnya dengan gencar membuat aturan dan advokasi agar Bogor bebas asap rokok” Ajak Dr. Khalilah, M.Pd.

Mencegah tetap lebih baik dari pada mengobati karena jika sudah sakit maka 80 % pendapatan kita kesedot hanya untuk berobat, jadi marilah memilih untuk hidup sehat tanpa rokok.

Ketum KOWANI, Giwo Rubianto: Poligami Sangat Merugikan Kaum Perempuan

January 27, 2020

Perjuangan kaum perempuan Indonesia di tengah masyarakat moderen,– di era milenial ini,– bukannya semakin mudah, tetapi menghadapi tantangan berat. Salah satunya adalah menghadapi poligami yang semakin meluas di kalangan masyarakat. Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) sebagai organisasi perempuan Indonesia yang terbesar memikul beban sejarah dan masa depan untuk menegaskan kembali harkat kaum perempuan Indonesia yang sebagai tulang punggung masyarakat, bangsa dan negara,–bukan sekedar pelengkap nafsu kaum patriarki. Berikut wawancara dengan ibu Giwo Rubianto Wiyogo, Ketua Umum KOWANI menanggapi pandangan poligami saat ini.

Maraknya poligami saat ini menempatkan kaum perempuan Indonesia dalam posisi lebih sulit lagi. Bagaimana seharusnya perempuan Indonesia menyikapinya?

Belakangan kasus kasus poligami marak terjadi di Indonesia. Banyak kasus poligami terjadi karena adanya perselingkuhan atau persoalan ekonomi. Perempuan yang ingin hidup enak dengan cara instan. Mereka merasa tidak memiliki pilihan lain selain poligami. Lalu, mereka juga berpikir apabila menjadi istri kedua atau ketiga, ia tidak perlu repot lagi untuk bekerja. Sang perempuan akan mendapatkan uang secara berkala dari suaminya. Uang tersebut ia gunakan untuk keperluan dirinya ataupun keluarganya. Perempuan tersebut tidak memikirkan dampak jangka panjang apabila ia melakukan poligami. Hal inilah yang membuat perempuan menjadi ketergantungan kepada laki-laki. Ketergantungan dan ketidakberdayaan ini yang nantinya membuat posisi perempuan menjadi sulit.

Oleh karena itu, sebagai perempuan kita harus memiliki kemandirian secara ekonomi. Kemandirian ini harus dipupuk sejak dini, agar ketika sudah dewasa perempuan tersebut memiliki penghasilan sendiri. Perempuan yang memiliki penghasilan sendiri akan lebih leluasa untuk menentukan sikapnya. Perempuan tidak perlu lagi takut untuk mengambil keputusan, mengenai bagaimana kehidupannya nanti, bagaimana keuangannya, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Mohon penjelasan mengapa poligami merugikan kaum perempuan?

Perempuan yang di poligami itu merugikan dirinya sendiri. Contohnya seorang lelaki memiliki 4 orang istri. Katakan lah lelaki itu bersikap adil. Seorang lelaki memiliki waktu 24 jam sehari. Namun bagi perempuan atau istrinya, mereka tidak memiliki waktu 24 jam yang sama dengan suaminya. Karena sang suami harus membagi waktu 24 jamnya dengan 4 istrinya secara adil.

Perlu diketahui, waktu 24 jam sang suami juga akan dikurangi dengan aktivitas pribadinya seperti bekerja, melakukan hobi, bertemu dengan kolega atau temannya, dan aktivitas lainnya. Dengan aktivitas lainnya ini tentu akan sangat mengurangi jatah waktu sang suami kepada istri-istrinya.

Kemudian, perempuan sangat suka diperhatikan dan diberikan kasih sayang. Apabila waktu sang suami sudah dikurangi untuk aktivitas pribadinya dan pembagian waktu dengan istri-istrinya yang lain, hal ini tentu akan sangat mengurangi perhatian dan kasih sayang suami terhadap sang istri. Lalu hal penting lain adalah komunikasi. Dengan waktunya yang semakin sedikit dengan setiap istri, membuat komunikasi suami dan istri berkurang. Padahal komunikasi antara suami dan istri adalah hal yang penting apabila mereka ingin membina keluarga dengan baik. Tidak adanya atau kurangnya komunikasi di dalam rumah tangga akan mengakibatkan seringnya terjadi miss komunikasi antara suami dan istri.

Dampak dari poligami tidak hanya dirasakan oleh perempuan saja, namun anak juga dapat menjadi korban dari tindakan poligami. Contohnya mengenai berkurangnya Hak – Hak terhadap anak seperti Hak Waris. Seorang anak tidak akan mendapatkan hak waris sepenuhnya dari ayahnya. Hal ini dikarenakan, sang ayah memiliki anak dari istrinya yang lain. Sehingga anak mendapatkan bagian kecil dari Warisan ayahnya. Pembagian secara adil hanya dapat dilakukan seseorang yang melakukan poligami secara legal. Apabila Ibu dari anak tersebut hanya menikah secara siri, maka sang anak tidak dapat menuntut hak waris dari Ayahnya.

Mengapa poligami bisa marak saat ini padahal sudah jelas merugikan kaum perempuan?

Saat ini poligami marak terjadi dikarenakan masih banyak perempuan yang berpikiran instan, mau enaknya saja, atau mau materinya saja. Terdapat beberapa kasus poligami yang terjadi dikarenakan perempuan tersebut hanya ingin mendapatkan materi dari sang suami. Ada pula kasus poligami dimana perempuan tersebut ingin dipandang dalam masyarakat. Dikarenakan sang suami memiliki pangkat atau kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Perempuan merasa, apabila ia menikahi laki-laki yang memiliki kedudukan, maka masyarakat juga akan memandangnya. Lalu tayangan-tayangan mengenai poligami juga dapat mempengaruhi pandangan perempuan untuk berpoligami. Padahal bila perempuan  melihat tayangan tersebut lebih dalam, perempuan hanya dijadikan sebagai hiasan atau imitasi diluarnya saja. Dalam tayangan tersebut mereka mengatakan bahwa mereka bahagia menjalani poligami. Namun, dari lubuk hati yang terdalam perempuan merasa tidak bahagia.

Sayangnya, perempuan tersebut tidak memikirkan mengenai hal negatif yang berdampak pada jangka panjang. Kasus kasus poligami yang dilakukan secara siri atau tidak tercatat secara negara memiliki potensi masalah besar dalam jangka waktu panjang. Dalam hal ini perempuan tidak dapat menuntut hak-haknya sebagai istri di pengadilan.

Bagaimana negara yang seharusnya melindungi kaum perempuan menyikapi Poligami? Mengapa?

Negara seharusnya memiliki sikap untuk permasalahan poligami. Walaupun sebenarnya permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam poligami ini sebenarnya kembali kepada individu itu sendiri. Apakah keputusan untuk berpoligami sudah dipikirkan secara matang oleh perempuan tersebut? Apakah perempuan memiliki mental yang kuat untuk menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi kedepan?

Meskipun  peraturan mengenai poligami diperbolehkan secara agama. Namun saya secara tegas menyatakan menolak praktek poligami. Pada pemerintahaan masa lalu, PNS tidak boleh berpoligami. Kala itu peraturan poligami untuk PNS dibuat sangat ketat. Seseorang yang ingin melakukan poligami harus mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak. Peraturan mengenai poligami ini sebenarnya dibuat untuk melindungi perempuan dan pak Harto mengatakan bahwa PNS seharusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Dengan adanya peraturan tersebut setidaknya dapat menekan jumlah masyarakat yang melakukan poligami. Tentunya peraturan mengenai PNS tidak dapat melakukan poligami ini dapat diatur oleh bidang kepegawaian.

Saat  ini negara baru mengatur PNS tidak boleh berpoligami dan ada sanksi pemecatan, tapi  hanya perempuan yang dipecat. Bagaimana seharusnya? Mengapa?

Menurut saya tidak bisa hanya perempuan saja yang dipecat. Karena dalam kasus poligami perempuan adalah korban. Seperti yang kita semua ketahui bahwa saat ini sudah ada kesetaraan gender di Indonesia. Laki-laki dan perempuan sudah memiliki kedudukan dan hak yang sama. Perempuan dapat melakukan apa yang laki-laki kerjakan ataupun mendapatkan hak yang sama. Jadi seharusnya perempuan dengan laki-laki sudah tidak dapat lagi dibedakan. Peraturan terkait poligami ini, tidak boleh hanya perempuan saja yang disalahkan. Namun laki-laki juga harus mendapatkan sanksi yang sama

Apakah ada program khusus dari KOWANI untuk penyadaran soal penindasan dalam poligami?

Tentunya KOWANI memiliki program khusus mengenai Poligami. Namun program tersebut bukan mengenai penyadaran soal penindasan dalam poligami. Tetapi Program KOWANI lebih bersifat mensosialisasikan hak-hak perlindungan kepada perempuan, hak – hak perlindungan kepada anak, dan kemandirian kepada perempuan melalui bidang ekonomi, seperti pelatihan, kewirausahaan. Dengan adanya program ini, diharapkan perempuan menjadi mandiri secara ekonomi. Sehingga perempuan tersebut tidak lagi bergantung kepada laki-laki

Lalu KOWANI  juga mengajarkan perempuan dari sisi bidang hukumnya mengenai bagaimana perempuan harus mendapatkan hak perlindungan dalam bidang ekonomi, kemandirian dan kewirausahaan. Sehingga apabila terjadi permasalahan dalam bidang hukum, perempuan sudah bisa mengambil sikap dan keputusannya. (sp)

sumber link: http://sinarharapan.net/2020/01/ketum-kowani-giwo-rubianto-poligami-sangat-merugikan-kaum-perempuan/

baca juga: http://bergelora.com/opini-wawancara/artikel/12775-ketum-kowani-giwo-rubianto-poligami-sangat-merugikan-kaum-perempuan.html?fbclid=IwAR0UgtkmiSUWPJ6VU6cBaynQbpmbPdWThiNGTFTozTQqaWOc9cN4x87wbys

Kowani meyampaikan Rencana Besarnya kepada Menteri PPPA

Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang dipimpin oleh Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd melaksanakan kunjungan ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Rabu (29/1/2020).

Pada kesempatan pertama audiensi tersebut Ketua Umum Kowani mengucapkan terima kasih atas  perkenaan Menteri PPPA, Ibu Bintang Puspayoga menerima Dewan Pimpinan Kowani masa bakti 2019-2024 yang terpilih pada Kongres XXV Kowani tahun 2019 yang diselenggarakan pada bulan Desember 2019 lalu.

Ibu Giwo juga menyampaikan beberapa hal penting kepada Menteri PPPA antara lain rekomendasi dari organisasi anggota sebagai hasil Kongres Kowani 2019 serta harapan besar Kowani yaitu agar membacakan Sejarah Kowani pada setiap Peringatatan Hari Ibu setiap tahun.

Hal lain yang disampaikan Ibu Giwo adalah dalam waktu dekat Kowani akan menghadiri CSW di UN PBB agar menambah Kuota DELRI dalam sidang terhormat tersebut dan rencana besar Kowani yaitu menyelenggarakan Kowani Fair yang direncanakan akan diselenggarakan di JCC pada bulan Mei 2020 yang akan mengikut sertakan para perempuan pelaku UMKM dari seluruh nusantara ambil bagian pada saat Kowani fair tersebut.

Rencana Kowani untuk membuka crisis centre dalam menangani kekerasan yang dialami perempuan dan anak turut disampaikan kepada Ibu Menteri. Hal tersebut dianggap perlu karena masih banyaknya terjadi dengan tujuan menanamkan rasa aman karena disekeliling tempat tinggal dan sekolah belum menjanjikan hidup perempuan dan anak selalu baik.

Sementara Itu Ibu Bintang juga menyampaikan program Kementrian dengan BUMN dan perempuan pedesaan serta perempuan nelayan dalam memberikan edukasi serta hak yang layak diterima para perempuan dan anak untuk menambah pengetahuan dan penghasilan yang pasti dapat menunjang  pemasukan bagi keluarga tentunya.

Harapan Ibu Menteri Kowani dapat bekerjasama sebagai perpanjangan tangan dari Kementerian dalam memajukan Perempuan Indonesia.

Dewan Pimpinan Kowani yang turut hadir pada kunjungan tersebut mendampingi Ketua Umum Kowani antara lain Sekretaris Jenderal Kowani Ibu Titien Pamudji, S.IP, Bendahara Kowani Ibu Angelia Sasongko dan Ketua-Ketua Kowani yaitu Ibu Susianah Affandy, Ibu Uli Silalahi dan Ibu Ery Simanjuntak, S.Sos

Bakti Sosial KOWANI untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Lebak Banten

Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Daerah yang kami datangi adalah Kawasan di sekitar Sungai Ciberang di Desa Banjarsari, Lebak Gedong, Provinsi Banten, termasuk kawasan yang paling parah diterjang banjir bandang pada awal tahun 2020 dengan total pengungsi mencapai 3.227 KK yang tersebar di delapan pos pengungsian.

Kabupaten Lebak Terbagi atas 28 Kecamatan, 340 Desa dan 5 Kelurahan. Pusat pemerintahan Kabupaten Lebak terletak di Kecamatan Rangkasbitung.

Banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Lebak, Banten, merusak sejumlah bangunan dan fasilitas umum seperti rumah, sekolah, hingga jembatan. Ada 6 Kecamatan yang rusak parah yaitu Kecamatan Sajira, Kec. Pucung, Kec. Leuidamar, Kec. Lebak Gedong, Kec. Cipanas dan Kec. Curugbitung; 2.167 rumah terendam air; 306 rumah rusak berat dan 274 rumah rusak ringan serta 7 jembatan putus.

Bencana ini juga merusak 489 hektare lahan pertanian masyarakat. Begitupun hewan ternak beserta kandangnya, ikut hanyut.

Hulu Sungai Ciberang mulai dari blok Cibuluh sampai Lebak Sampay Desa Lebak Situt, terdapat kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI) dengan luas area mencapai 178 hektare.

Namun dari jumlah tersebut, hanya 60 persen yang masih aktif. Sisanya ditinggalkan oleh penambang emas liar atau gurandil.

Lubang-lubang tambang yang ditinggalkan tersebut dituding menjadi penyebab longsor hingga materialnya jatuh ke sungai dan memicu banjir bandang.

Ketua Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga (Soskeskel) Kowani, Dr. Khalilah, M.Pd mengajak seluruh masyarakat agar senantiasa berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

“Bantulah korban bencana maka kita akan mendapatkan banyak manfaat diantaranya terasahnya rasa empati kita, rasa bersyukur kita, rasa berbagi kita, dan rasa bahagia kita karena kebersamaan dalam suka dan duka” ajak Ibu Khalilah.

Pada kegiatan Baksos ke titik bencana tersebut Kowani menyalurkan satu box mobil baju layak pakai, sembako dan alat tulis, susu, jajan, serta krayon untuk anak-anak.

Bakti Sosial KOWANI Peduli Banjir dan Tanah Longsor di Pengungsian Puslatpur Banten bersama Anak-Anak

Pusat Pelatihan Tempur TNI AD yang digunakan sebagai tempat pengungsian lebih dari 700 KK menjadi titik tujuan bagi Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dalam melaksanakan bakti sosial peduli Korban Banjir dan Tanah Longsor yang terjadi di Banten pada awal tahun 2020.

Pada kesempatan tersebut Kowani menyalurkan sembako, baju layak pakai, 100 bingkisan alat tulis dan buku gambar untuk anak-anak, pemeriksaan kesehatan gratis bersama Klik Dokter, Bantuan obat-obatan sumbangan dari PT Nelconya Ibu Lenny dan 200 makanan sabana.

Ketua Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga (Soskeskel) Kowani, Dr. Khalilah, M.Pd menyampaikan bahwa walaupun hanya sedikit yang bisa kami lakukan tapi dengan melihat mereka bahagia, rasanya lelah ini terbayarkan hati rasanya lega dan bahagia.

“Melihat senyum anak-anak yang senang menerima bantuan kita rasanya hati ini juga ikut senang, bersyukur bisa sedikit membantu anak-anak semoga bantuannya bermanfaat, Amin…” ujar Ibu Khalilah.

KOWANI Peduli Bencana Banjir

Tahun 2020 diawali dengan musibah banjir di sejumlah titik di Jakarta usai hujan deras yang mengguyur sejak malam Senin (1/1). Salah satunya banjir merendam di wilayah RW 11 Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Ketinggian air di wilayah tersebut sekitar dada orang dewasa atau sekitar satu meter.

Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bergotong royong bahu membahu membantu korban banjir di Masjid Al-Anwar SD Muhammadiyah 11 Bidara Cina, Jakarta (8/1/2020).

Selain memberikan santunan berupa Sembako, Kowani juga bekerjasama dengan klikdokter.com memberikan bantuan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis serta obat-obatan dari Ibu Lenny Prasetya (PT Nelco).

Menurut Ibu Susianah Affandy selaku Ketua Kowani sekaligus Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan bahwa saat ini pemenuhan kebutuhan dasar anak adalah hal utama karena mereka rentan dengan penyakit di cuaca yang ekstrem. Anak-anak yang keluarganya tinggal di daerah yang selama ini tidak terkena banjir dan tiba-tiba banjir menggenang membawa harta rusak menyebab mereka rentan trauma maka dibutuhkan assesment dan psikososial dengan segera.

Oleh karena itu pada kesempatan tersebut KPAI mengajak menghibur anak-anak korban banjir dengan menggambar, bermain dan mendongeng yang membuat mereka menjadi ceria dan semangat kembali.

Para siswa SD Muhammadiyah 11 dan anak-anak sekitar sekolah yang terdampak banjir, tampak senang dengan kegiatan ini. Mereka belajar di lantai dua di antara buku-buku pelajaran yang dijemur karena terendam air.

Sementara itu Ketua Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga (Soskeskel) Kowani merasa terenyuh sedih mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan para korban Banjir tentang bagaimana mereka mengalami musibah dan banyak kerugian akibat banjir. Namun kejadian tersebut sekaligus meningkatlah rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya dan mengingatkan agar kita memiliki hati dan sikap untuk peduli dan berusaha membantu mereka yang sedang tertimpa musibah.

Selain KOWANI, Organisasi perempuan yang bergabung di Kowani dalam kegiatan peduli Korban Banjir antara lain PP. Muslimat NU, Ikatan Bidan Indonesia, Persatuan Wanita Nasional, Ikatan Keluarga Apoteker Indonesia, Wanita Katolik RI dan Wanita Islam.

Kegiatan ini juga didukung oleh 200 Mahasiswa UHAMKA dengan melakukan bersih-bersih kotoran pasca banjir.

Kowani dan Organisasi Perempuan Peduli Banjir

Tahun 2020 diawali dengan musibah banjir disejumlah titik di Jakarta usai hujan deras yang mengguyur sejak malam Senin (1/1). Salah satunya banjir merendam di wilayah RW 11 Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Ketinggian air di wilayah tersebut sekitar dada orang dewasa atau sekitar satu meter.

Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bergotong royong bahu membahu membantu korban banjir di  (8/1/2020). Jenis kegiatan yang telah dilakukan yaitu Santunan, membuka dapur umum, Pemeriksaan kesehatan gratis dan lain-lain.

Saat ini air sudah mulai surut, tinggal bersih-bersih rumah dan perabotan mereka banyak yang rusak dan hancur. Senyum mulai mengembang di wajah para korban walau masih dalam berduka.

Menurut Ibu Susianah Affandy selaku Ketua Kowani menyampaikan bahwa saat ini pemenuhan kebutuhan dasar anak adalah hal utama karena mereka rentan dengan penyakit di cuaca yang ekstrem. Anak-anak yang keluarganya tinggal di daerah yang selama ini tidak terkena banjir dan tiba-tiba banjir menggenang membawa harta rusak menyebab mereka rentan trauma maka dibutuhkan assesment dan psikososial dengan segera.

Selain membagikan sembako Ibu-ibu Kowani juga menghibur anak-anak dengan mendongeng dan menggambar. Para siswa SD Muhammadiyah 11 dan anak-anak sekitar sekolah yang terdampak banjir, tampak senang dengan kegiatan menggambar ini. Mereka belajar di lantai dua di antara buku-buku pelajaran yang dijemur karena terendam air.

Pada kegiatan ini Kowani juga bekerjasama dengan klikdokter.com mengadakan pemeriksaan kesehatan dan memberikan obat-obatan gratis kepada para korban.

Selain KOWANI, Organisasi perempuan yang bergabung di Kowani dalam kegiatan peduli Korban Banjir antara lain PP. Muslimat NU, Ikatan Bidan Indonesia, Persatuan Wanita Nasional, Ikatan Keluarga Apoteker Indonesia, Wanita Katolik RI dan Wanita Islam.

Galeri: